coretan seputar dunia veteriner

 Menurut Alikodra (1987), Salah satu tolok ukur yang dapat dipergunakan untuk menilai keberhasilan program pelestarian dam adalah kondisi populasi (densitas) dan penyebaran suatu spesies yang dilestarikan. Jalak bali mempunyai sifat-sifat biologis yang sangat peka terhadap adanya gangguan. Jalak bali mudah mengalami stress dalam keadaan lingkungan yang tidak wajar, sehingga kemampuan berkembangbiak sering berjalan tidak normal. Burung jalak bali juga menghendaki tempat bersarang khusus di dalam lubang-lubang pada batang pohon, padahal burung jalak bali tidak mampu membuat lubang tempat sarang tersebut. Sejak tahun 1978 nampak bahwa jumlah lubang tempat sarang secara alam sudah tidak sesuai lagi dengan yang diperlukan oleh jalak bali, sehingga dibuat lubang-lubang buatan pada pohon yang memungkinkan untuk tempat bersarang burung jalak bali.

Menurut van Balen et al. (2000), konversi habitat dan penangkapan di alam yang berlebihan untuk tujuan perdagangan satwa kesayangan menyebabkan jalak bali merupakan satwa yang berada dalam ancaman kepunahan sejak tahun 1980. Ancaman kepunahan ini disebabkan oleh ukuran populasi yang terlalu kecil, habitat yang sempit dan terbatas, penangkapan secara ilegal, dan berkurangnya habitat alami. Menurut Thohari et al. (1991), burung jalak bali telah ditetapkan oleh IUCN sejak tahun 1966 dan dicatat dalam Red Data Book sebagai salah satu jenis satwa langka yang terancam punah. Pemerintah Indonesia mulai menetapkan jalak bali sebagai satwa yang dilindungi melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/1970. Selain itu, sejak tahun 1978 jalak bali juga dimasukkan ke dalam appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) yang menetapkan pelarangan perdagangan jalak bali secara internasional.
Langkah konservasi terhadap burung jalak bali dapat dilakukan secara in-situ dan ek-situ. Konservasi ek-situ dapat dilakukan melalui penangkaran. Menurut Setio dan Takandjandji (2006), dasar hukum kegiatan penangkaran sebagai upaya konservasi ek-situ antara lain adalah UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemeritah (PP) No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta PP No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Kegiatan penangkaran dapat dilakukan oleh lembaga konservasi pemerintah atau swasta. Menurut Gepak (1986) dalam Thohari et al. (1991), proyek penangkaran jalak bali di Kebun Binatang Surabaya sejak tahun 1980 dilaporkan telah berhasil mengembangbiakkan jalak bali. Selain itu, pada tahun 1987 pemerintah Indonesia telah menerima sumbangan jalak bali hasil penangkaran para kolektor burung dan kebun binatang-kebun binatang di Amerika Serikat sebanyak 40 ekor yang bertujuan untuk dijadikan bibit dalam program penangkaran ataupun untuk keperluah restocking populasi ke habitat aslinya.
Menurut anonim (2009), penangkaran merupakan suatu kegiatan untuk mengembangbiakkan jenis satwa liar dan tumbuhan alam, dengan tujuan untuk memperbanyak populasinya dengan mempertahankan kemurnian jenisnya sehingga kelestarian dan keberadaannya dapat dipertahankan. Prinsip kebijakan penangkaran jenis satwa liar adalah :
–          Mengupayakan jenis-jenis langka menjadi tidak langka dan pemanfaatannya berazaskan kelestarian
–          Upaya pelestarian jenis perlu dilakukan di dalam kawasan konservasi maupun di luar habitat alaminya. Di luar habitat alami dapat berbentuk penangkaran, baik di kebun binatang maupun lokasi lainnya yang ditangani secara intensif
–          Peliaran kembali satwa hasil penangkaran ke habitat alaminya ditujukan untuk meningkatkan populasi sesuai dengan daya dukung habitatnya tanpa mengakibatkan adanya polusi genetik ataupun sifat-sifat yang menyimpang dari sifat aslinya.
Menurut Thohari et al. (1991), masalah utama yang menjadi bahan perdebatan dan pertanyaan dalam kaitan dengan upaya peliaran kembali atau pemulihan populasi (restocking) dan redistribusi jalak bali hasil penangkaran ke habitat aslinya di alam terutama menyangkut aspek genetiknya, karena terdapat asumsi bahwa jalak bali hasil penangkaran diduga telah mengalami perubahan genetik, sehingga dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap kemurnian jalak bali di habitat alaminya.
Penyakit pada Jalak Bali
Menurut McCallum Dobson (2006) diacu dalam Crooks dan Sanjayan (2006), fragmentasi habitat inang dapat meningkatkan jarak rata-rata parasit untuk berpindah antara kelahiran dan kesuksesan kolonisasi satwa. Kondisi dimana populasi inang berubah menjadi kawasan kecil dan terfragmentasi akan menyebabkan peningkatan keberhasilan penyebaran penyakit dan akan menyebabkan peningkatan prevalensi terhadap beberapa parasit dan patogen lain.
Menurut Thompson (2001), penyakit utama yang terjadi pada populasi di penangkaran adalah atoxoplasmosis, hemochromatosis, dan chlamydia. Atoxoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan parasit koksidia yang menginfeksi sistem limfoid dan epitel intestinal pada burung-burung penyanyi. Infeksi pada burung berasal dari tertelannya ookista yang bersporulasi dan mempunyai efek infeksi yang berat dan kematian pada burung-burung muda antara umur 3 dan 8 minggu. Infeksi atoxoplasma pada burung dewasa cenderung bersifat asimptomatik dan sering tidak terjadi pengeluaran ookista kecuali burung mengalami stress (ketika burung dipindahkan antar kebun binatang). Sampai saat ini dipercaya bahwa indukan yang mengandung atoxoplasma akan menyebarkan ke anakan, sehingga anakan akan terinfeksi.
Menurut Thompson (2001), dua macam obat yang sekarang digunakan secara rutin untuk mengatasi tahapan hidup atoxoplasmosis yang berbeda pada jalak bali adalah sulfachlorpyrazine dan toltrazuril. Hemochromatosis atau gangguan penyimpanan zat besi menyebabkan akumulasi zat besi yang berlebihan, hal ini dapat mengakibatkan peradangan pada berbagai organ tubuh burung. Penyebab dari hemochromatosis pada burung belum diketahui secara pasti. Namun, hemochromatosis merupakan penyakit yang umum terjadi pada beberapa jenis burung jalak. Beberapa peneliti menyatakan bahwa hemochromatosis merupakan penyakit yang berkaitan dengan diet karena hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan konsumsi zat besi dapat menurunkan kejadian penyakit ini. Selain itu pemberian buah jeruk memberikan ketersediaan asam askorbat yang dapat meningkatkan absorpsi zat besi.

Nama          : Joli

Jenis hewan : kucing

Ras             : mix

Berat badan : 2,1 kg

Umur          :

Jenis kelamin : betina

 

Anamnesis :

  • Telinga bau
  • Nafsu makan turun
  • Feses encer
  • Dirawat sudah 1 minggu

 

Pemeriksaan Fisik (kelainan) :

  • Bulu kusam
  • Otitis
  • Mata kanan dan kiri cekung
  • Hidung keluar discharge
  • Mukosa mulut icterus
  • Hati membesar (hepatomegaly)
  • Sekitar anus kotor (diare)
  • Polyuria
  • Polydipsia
  • Weight loss (dari 2,3 kg menjadi 2,1 kg)
  • Nafsu makan bagus
  • Demam selama dua hari pertama

 

Diagnosa :

Diagnosa banding :

  • Diarrhea chronic
  • Hepatitis granulomatous
  • Hepatic lipidosis
  • Hepatic neoplasia
  • Cholangiohepatitis
  • Hemolytic anemia

 

Terapi yang sudah diberikan :

  • Ampicillin 1 g/5 ml (5 mg/kg) IM BID selama 3 hari pertama
  • Prednison 0,3 mg/kg selama 5 hari
  • Infus Ringer lactate
  • Biosalamin
  • Hematopan
  • Aquaprim (trimetoprim-sulfa)
  • Terapi antibiotik dilanjutkan dengan metronidazole 10 mg/kg PO BID dan clindamycin 10 mg/kg BID selama 3 hari berikutnya
  • Vitamin B complex tab 1/4 BID, stimuno cap 1/8 BID
  • Pakan Science Diet gastrointestinal health dan Royal canine gastrointestinal
  • Otopain

 

Pembahasan

 

Kucing dengan nama Joli masuk pada tanggal 8 Oktober 2011 dengan keluhan dari owner berupa telinganya berbau dan nafsu makan turun, serta diare. Treatment pertama dilakukan dengan pembersihan telinga, kemudian dilakukan terapi menggunakan otopain (polymixin B sulfate, neomycin sulfate, fludrocortisone acetate, dan lidocaine HCl). Telinga kucing Joli mengalami otitis yang sudah kronis. Terapi berikutnya dilakukan dengan pemberian infus RL intravena karena kondisi tubuh mengalami dehidrasi, serta injelsi betamox (amoxicillin 150 mg/ 100 ml dengan dosis 10 mg/kg IM) dan injeksi hematopan. Setelah itu dilakukan rawat inap selama 3 hari pertama untuk melihat kondisi kucing Joli.

 

Selama rawat, kucing Joli mengalami diare berair yang hampir terjadi selama 3 hari. Diagnosa yang diambil adalah diarrhea chronic dengan penyebab yang belum dapat ditentukan. Menurut Tilley dan Smith (1997), diare kronis di kucing merupakan perubahan frekuensi, konsistensi, dan volume feses lebih dari 3 minggu atau dengan pola episodic recurrence. Diare kronis dapat berasal dari usus halus atau usus besar. Sistem tubuh yang terpengaruh pada kejadian ini diantaranya adalah gastrointestinal dan endokrine/metabolic (fluid, elektrolit, dan gangguan terhadap keseimbangan asam basa).

 

Diare yang terjadi pada kucing Joli diantaranya ditandai dengan volume feses yang lebih besar daripada normal, peningkatan frekuensi defekasi, penurunan bobot badan, dan tidak disertai tenesmus. Tanda dari diare tersebut menurut Tilley dan Smith (1997) merupakan diare yang berasal dari usus halus. Hasil pemeriksaan fisik diperoleh hasil berupa icterus, menurut Tilley dan Smith (1997), merupakan indikasi dari hepatic lipidosis, FIP, hepatic neoplasia, dan penyakit biliary. 

 

Menurut Tilley dan Smith (1997), penyebab dari chronic diarrhea diantaranya adalah inflammatory bowel disease (lymphoplasmacytic enterocolitis, granulomatous enteritis, eosinophilic enteritis/hypereosinophilic syndrome), neoplasia (lymphoma, adenocarcinoma, mast cell tumor, dan polips), obstruksi (neoplasia, foreign body, inflammatory bowel disease, intussusception, dan stricture), parasitic (giardia, Toxoplasma gondii, Toxocara cati, Dirofilaria immitis, dan Cryptosporidium spp.), metabolic disorder (hypertiroidism, renal disease, hepatic disease, diabetes melitus, toksin, dan drug administration), bacterial causes (Campylobacter jejuni, Salmonella spp., Yersinia pseudotuberculosis, dan Clostridium perfringens), viral causes (FeLV, FIV, FIP), mycotic causes (histoplasmosis, mycobacteriosis, phycomycosis, dan aspergillosis), noninflammatory malabsorption (lymphangiectasia, small intestinal bacterial overgrowth, short bowel syndrome, villous atrophy, dan ulcer duodenum), maldigesti (hepatobiliary disease dan exocrine pancreatic insuficiency [jarang di kucing]), dietary (dietary sensitivity, dietary indiscretion, dan perubahan diet), serta congenital anomalies (short colon, portosystemic shunt, dan persistent pancreaticomesojejunal ligament).

 

Diagnosa banding yang diambil salah satu diantaranya adalah cholangiohepatitis, karena berdasarkan pemeriksaan fisik diperoleh hasil terjadinya icterus dan hepatomegaly. Selain itu, gejala lain yang teramati diantaranya adalah depresi, weight loss, diarrhea, dan nafsu makan masih baik. Menurut Tilley dan Smith (1997), gejala klinis yang dijumpai tersebut merupakan beberapa gejala dari cholangiohepatitis. Menurut Tilley dan Smith (1997), terapi yang dapat diberikan diantaranya adalah amoxicillin (11-22 mg/kg q8h) yang mempunyai aktivitas terhadap bakteri gram negatif aerobik dan juga mempunyai aktivitas yang bagus terhadap bakteri anaerob, aminoglycosida (gentamycin 2,2 mg/kg q8h atau kanamycin 5 mg/kg q8h-q12h) yang mempunyai aktivitas bagus terhadap bakteri gram negatif (harus dikombinasikan dengan amoxicillin untuk infeksi sistemik), metronidazole (10-15 mg/kg q8h-q12h) untuk mengatasi infeksi anaerob (dapat diberikan bersama amoxicillin dan aminoglycosides).

Signalement

 

Nama Pasien                          : Diego

Jenis Hewan                           : Anjing

Ras/Breed                               : German Shepherd

Warna Rambut dan Kulit   : Coklat dan hitam

Jenis Kelamin                         : Jantan

Bobot Badan                           : 32,8 kg

Tanggal Datang                      : 3 Nopember 2010

 

Anamnesis : Luka terbuka di daerah sekitar anus selama ± 3

bulan yang lalu

 

Status Present

Perawatan                               : baik

Tingkah laku                            : jinak

Gizi                                             : baik

Pertumbuhan                          : baik

Sikap berdiri                            : tegak pada keempat kaki

Frekuensi napas                     : 28 kali/menit

 

Kulit dan Bulu

Aspek bulu                              : kusam

Kerontokan                              : ada

Kebotakan                               : tidak ada

Turgor kulit                              : sedang

Permukaan kulit                      : rata dan terdapat infestasi caplak

Bau kulit                                  : khas

 

Kepala dan Leher

Ekspresi wajah                       : apatis

Pertulangan kepala                 : tegas

Posisi tegak telinga                 : telinga tegak keduanya

 

Palpasi

Palpebrae                                : membuka dan menutup sempurna pada kedua

mata

Cilia                                         : keluar sempurna pada kedua mata

Conjunctiva                             : rose pada kedua mata

Membrana nictitans                : tersembunyi pada kedua mata

 

Sclera                                      : putih pada kedua bola mata

Cornea                                    : bening pada kedua bola mata

Limbus                                                : rata pada kedua bola mata

Pupil                                        : mengecil pada kedua bola mata

Refleks pupil                           : ada pada kedua bola mata

Vasa injectio                            : tidak ada pada kedua bola mata

Hidung dan sinus                    : tidak ada discharge

 

Mulut dan Rongga Mulut

Rusak/luka bibir                      : tidak ada

Mukosa                                    : rose

Gigi geligi                                 : lengkap

Lidah                                       : rose

 

Telinga

Posisi                                      : tegak pada kedua telinga

Bau                                          : khas cerumen

Permukaan daun telinga         : rata

Krepitasi                                  : ada

Reflek panggilan                     : ada

 

Sistem Pernapasan

Bentuk rongga thorax              : simetris

Tipe pernapasan                     : costal

Ritme                                      : teratur

Intensitas                                 : tidak ada perubahan

Frekuensi                                : 28 kali/menit

Trachea                                   : teraba dan tidak ada batuk

Penekanan rongga thoraks     : tidak sakit

 

Abdomen dan Organ Pencernaan

Inspeksi

Besar                                      : tidak ada perubahan

Bentuk                                     : simetris

Suara peristaltik lambung       : tidak terdengar

 

Anus

sekitar anus                            : kotor

Glandula perianalis                 : bengkak dan mengalami perlukaan (ulcer)

Kebersihan daerah perineal    : bersih

 

Alat Gerak

Perototan kaki depan              : tidak ada perubahan

Perototan kaki belakang          : tidak ada perubahan

Spasmus otot                         : tidak ada

Tremor                                                : tidak ada

Cara bergerak-berjalan           : koordinatif

 

Konsistensi pertulangan         : kompak

Reaksi saat palpasi                : tidak ada rasa sakit

 

Diagnosa : Fistula perianal

Prognosa                               : Dubius

Terapi : –     Chlorhexidine

–          Rivanol

–          Nebacetyn

–          Enbatic topical

 

PEMBAHASAN

Anjing ras German Shepherd yang bernama Diego berdasarkan data rekam medis di Direktorat Satwa Polri telah mengalami kondisi pembengkakan dan perlukaan di daerah perianal sejak tanggal 2 Agustus 2010. Kondisi tersebut menyebabkan tidak dapat dilakukan pemeriksaan temperatur rektal pada anjing Diego. Walaupun terjadi gangguan di daerah perianal, anjing Diego masih memperlihatkan aktivitas yang normal serta nafsu makan dan konsumsi air minum yang tidak mengalami perubahan.

Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya kelainan di daerah perianal. Daerah perianal mengalami kebengkakan dan juga tedapat perlukaan. Di lokasi tersebut sering terdapat discharge berupa darah atau discharge mukopurulenta. Selain itu, terlihat adanya rasa sakit di lokasi tersebut ketika dilakukan pemeriksaan fisik dengan palpasi pada daerah perianal tersebut yang ditandai dengan anjing memperlihatkan rasa ketidaknyamanan ketika dilakukan pemeriksaan fisik. Berdasakan hasil pemeriksaan fisik maka diagnosis dari kondisi Diego adalah fistula perianal. Menurut Kelly (1984), fistula perianal lebih sering terjadi pada anjing ras german shepherd. Menurut Tilley dan Smith (2000), breed predisposisi dari fistula perianalis adalah anjing ras german shepherd dan irish setter dengan umur antara 7 bulan sampai 12 tahun.

Gejala klinis yang ditemukan dari anjing Diego adalah diare yang ditandai oleh keadaan sekitar anus yang kotor, pembengkakan daerah perianal, abses di daerah perianal, anjing sering menjilat daerah perianal, adanya discharge mukopurulentayang keluar dari daerah perianal yang luka, nyeri/kesakitan di daerah perianal, serta anjing memperlihatkan sikap tidak mau untuk duduk. Menurut Patterson dan Campbell (2005), canine anal furunculosis (fistula perianal) merupakan penyakit kronis pada daerah perianal, anal, dan jaringan rektum yang ditandai dengan adanya ulcer. Penyebab dari kondisi ini masih belum diketahui dengan pasti. Namun, kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan sistem imun. Penegakkan diagnosa dari fistula perianal biasanya dari anjing ras german shepherd yang menunjukkan adanya lesio perianal.

Menurut House et al. (2006), fistula perianal pada anjing merupakan penyakit kronis dan progresif yang dicirikan oleh adanya fistula cutaneus dan fistula rectocutaneus, serta dicirikan oleh adanya ulcerasi di jaringan perianal. Gejala klinis dari fistula perianal diantaranya adalah tenesmus, dyschezia, konstipasi, dan discharge mukopurulenta dari perineum. Menurut Tilley dan Smith (2000), fistula perianal dicirikan oleh adanya jalur fistula kronis atau ulcer pada sinus yang melibatkan regio perianal, kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah peradangan kelenjar apokrin (hidradenitis suppurativa), impaksi dan infeksi sinus atau kripta anus, infeksi circumanal glands dan folikel rambut, serta anal sacculitis. Selain itu, kondisi ini juga sering berkaitan dengan keadaan kolitis pada anjing ras german shepherd. Kondisi ini menyebabkan keterlibatan sistem gastrointestinal ketika jaringan luka yang berlebihan di sekitar anus menghasilkan tenesmus, dyschezia, atau masalah-masalah lain yang berkaitan dengan defekasi. Gejala klinis dari fistula perianal diantaranya adalah dyschezia, tenesmus, hematochezia, konstipasi, diare, discharge mukopurulenta yang berbau, rasa sakit ketika menggerakkan ekor, menjilat bagian anus, kesulitan untuk duduk, fecal incontinenece, anorexia, penurunan bobot badan, serta adanya saluran fistula perianal. Selain itu, menurut Rubin dan Carr (2007), fistula perianal menyebabkan ulserasi di daerah peranal, anal, dan jaringan perirektal. Kondisi ini umumnya menunjukkan gejala kelainan pada usus besar, diantaranya adalah tenesmus, dyschezia, dan peningkatan frekuensi defekasi. Daerah yang mengalami gangguan (fistula perianal) akan terasa sakit dan dihasilkan discharge purulenta atau hemorrhagica.

Etiopatogenesis dari fistula perianal masih belum diketahui dengan jelas. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa posisi ekor yang turun akan menyebabkan peningkatan kelembaban, akumulasi bakteri dari feses, rectal mucus, atau akumulasi anal sac mucus di regio perianal sehingga dapat mengakibatkan terjadinya peradangan dan infeksi pada kulit sekitar anus dan adnexa. Anatomi makroskopis dan mikroskopis zona anocutaneus dari anjing German Shepherd pada umumnya sama dengan anjing-anjing ras yang lain, tetapi anjing ras German Shepherd mempunyai kelenjar apokrin perianal dengan kepadatan yang tinggi. Namun, kondisi tersebut masih belum jelas hubungan antara kelenjar keringat dengan perkembangan fistula perianal. Kemungkinan lain adalah keadaan hipotiroidisme atau sindrom imunodefisiensi dapat menyebabkan fistula perianal, tetapi dalam studi lain mengatakan bahwa tidak terdapat perbedaan pada hasil tes stimulasi tiroid dan konsentrasi serum IgA antara anjing yang normal dengan anjing yang sakit. Etiologi yang lain dari fistula perianal adalah impaksi dan infeksi pada sinus anal atau kripta anal, peradangan dan nekrosis pada kelenjar apokrin (hidradenitis suppurativa), infeksi kelenjar circumanal atau folikel rambut (folikulitis), infeksi anal sac dan abses anal sac, serta hipotiroidisme (Ellison 2008).

Menurut Patterson dan Campbell (2005), penyebab umum dari fistula perianal adalah konformasi regio perianal dan ekor yang buruk (posisi ekor yang turun), anal crypt fecalith impaction yang menghasilkan kondisi abses, penyebaran infeksi dari kelenjar anal (anal sac), trauma, dan reaksi terhadap benda asing. Teori saat ini mengatakan bahwa proses penyakit ini disebabkan oleh multifactorial immune mediated disease. Kondisi ini dapat menyebabkan fistula perianal (canine anal furunculosis) dan Crohn’s disease dari terjadinya terhadap penurunan regulasi respon imun. Crohn’s disease dapat menghasilkan ketidakseimbangan respon imun inang terhadap trigger di usus. Karena anjing german shepherd dengan keadaan fistula perianal sering diikuti oleh kondisi klinis maupun histologi kolitis (inflammatory bowel disease) dan enteral trigger (dietary antigen, antigen bakterial, dan superantigen) yang dapat menyebabkan furunkulosis. Anjing german shepherd dengan kondisi fistula perianal dilaporkan sering diikuti oleh keadaan inflammatory bowel disease. Hal ini dimungkinkan oleh susunan genetik dari anjing german shepherd dapat memproduksi respon imun proinflammatory yang tinggi, sehingga menyebabkan immune-mediated disease. Faktor lain penyebab dari fistula perianal adalah folikulitis stafilokokal. Berdasarkan evaluasi histologi, lesio fistula perianal awal menunjukkan reaksi peradangan pada epidermis tanpa ulcer epidermis yang terjadi bersamaan. Apabila reaksi peradangan mengalami peningkatan, folikulitis/furunkulosis dan saluran sinus yang tidak bercabang berkembang menuju dermis perianal. Ulcer epidermal superficial dan percabangan saluran sinus menyebabkan selulitis menuju ke seluruh jaringan perianal. Saluran sinus kemudian dilapisi oleh epitel squamous dan terjadi nfiltrasi oleh campuran dari limfosit, sel plasma, makrofag, neutrofil, dan eosinofil. Apabila lesio perianal berkembang maka nodule limfoid perifer akan berkembang.

Diferensial diagnosa dari fistula perianal (canine anal furunculosis) adalah abses anal sac, adenoma perianal, anal sac adenocarcinoma, squamous cell carcinoma, rectal neoplasia, atypical bacterial infection, mikosis, dan oomycosis (Patterson dan Campbell 2005). Abses anal sac dicirikan oleh kondisi demam dan gejala infeksi pada anal sac. Gejala lain yang dapat dilihat adalah pembengkakan yang biasanya terjadi pada salah satu sisi, pembengkakan tersebut pada awalnya berwarna merah kemudian berkembang menjadi keunguan (Eldredge et al. 2007).

Terapi terhadap pasien fistula perianal yang dilakukan di Direktorat Satwa Polri adalah dengan menggunakan chlorhexidine, rivanol, Nebacetyn®, dan Enbatic® topical. Chlorhexidine dan rivanol digunakan sebagai antiseptik untuk membersihkan luka/ulcer, sedangkan Nebacetyn® dan Enbatic® digunakan sebagai antibiotik topikal pada daerah ulcer tersebut. Menurut Ellison (2008), higiene lokal terhadap fistula perianal (canine anal furunculosis) meliputi pembersihan/pencukuran bulu di sekitar perianal dan pembersihan daerah perianal dengan menggunakan larutan povidon iodine 1% atau larutan chlorhexidine gluconate 0,5%, pembersihan dengan povidone iodine dan chlorhexidine gluconate tersebut berfungsi untuk menurunkan peradangan suppurativa yang terjadi tetapi tidak menyebabkan kesembuhan fistula perianal. Selain itu, pengikatan ekor ke samping atau ke atas tubuh dapat memberikan aerasi yang baik di regio perianal, sehingga dapat menyebabkan kesembuhan ulcer di superficial. Pemberian antibiotik topikal atau antibiotik sistemik dapat membantu mengurangi infeksi sekunder oleh bakteri, tetapi penggunaan jangka panjang antibiotik ini belum tepat karena bakteri bukan merupakan penyebab utama dari fistula perianal.

Terapi untuk mengatasi fistula perianal dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan dan terapi bedah. Terapi medis terhadap fistula perianal harus diusahakan dengan menggunakan terapi bedah. Beberapa terapi dengan obat-obatan yang digunakan adalah prednison dengan pakan yang bersifat hipoalergenik seperti diet ikan dan kentang, cyclosporin, topical tacrolimus, serta azathioprine dan metronidazole. Prednison biasanya diberikan pada fistula perianalis yang berkaitan dengan inflammatory bowel disease, prednison tersebut diberikan dengan dosis tinggi (2 mg/kg BB s1dd selama 2 minggu dan diikuti tambahan prednison dengan dosis 1 mg/kg BB s1dd sampai 4 minggu). Cyclosporin merupakan agen imunosupresif kuat yang menyebabkan efek samping minimal, cyclosporin dapat menyebabkan supresi fungsi sel T helper ketika diberikan dengan dosis 2 – 3 mg/kg BB s2dd selama 12 minggu. Terapi lain adalah tacrolimus yang merupakan obat dengan sifat imunosupresif dengan aktivitas yang sama dengan cyclosporin. Kombinasi azathioprine dan metronidazole merupakan obat yang bersifat imunosupresif dan merupakan antibiotik yang bersifat anti anaerob. Azathioprine diberikan dengan dosis 50 mg s1dd dan metronidazole diberikan dengan dosis 400 mg s1dd sampai 6 minggu. Sedangkan terapi bedah yang dapat dilakukan adalah anal sacculectomy, cryosurgery, caudectomy, dan laser excision (Ellison 2008). Prednison merupakan glukokortikoid sintetik. Dosis penggunaan prednison untuk imunosupresan adalah 2,2 mg/kg BB s2dd sampai kondisi membaik (Plumb 1999). Cyclosporine merupakan obat yang bersifat immunosuppresif dengan menekan induksi sel T limfosit. Dosis cyclosporin pada anjinga adalah sebesar 3 – 7 mg/kg BB peroral s2dd (Tilley dan Smith 2000).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dapat disimpulkan bahwa pasien anjing german shepherd yang bernama Diego di Direktorat Satwa Polri mengalami fistula perianal (canine anal furunculosis). Saran yang dapat diberikan dalam penanganan fistula perianal yaitu dilakukan peneguhan diagnosa dengan biopsi, serta penanganan fistula perianal diperluas dengan terapi diet dan terapi bedah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Eldredge DM, Carlson LD, Carlson DG, Giffin JM. 2007. Dog Owner’s Home Veterinary Handbook 4 th Ed. Wiley Publishing, Inc. New Jersey.

Ellison GW. 2008. Perianal Fistulas/Anal Furunculosis; A Medical Disease That Sometimes Need Surgery. http://surgery.acvsc.org.au/ surgery_assets/science%20week%202008/perianal%20fistulas%20or%20furunculosis.pdf [20 Nopember 2010].

House AK, Guitian J, Gregory SP, Hardie RJ. 2006. Evaluation of the effect two dose rates of cyclosporine on the severity of perianal fistulae lesions and associated clinical signs in dogs. Veterinary Surgery. 35: 543-549.

Kelly WR. 1984. Veterinary Clinical Diagnosis 3rd Ed. Bailliere Tindall. London.

Patterson AP, Campbell KL. 2005. Managing Anal Furunculosis in Dogs. http://www.hungarovet.com/wp-content/uploads/2009/04/canine-anal-furunculosis-perianal-fistula-compendium.pdf [20 Nopember 2010].

Plumb DC. 1999. Veterinary Drug Handbook 3rd Ed. Phamma Vet Publishing. Minnesota.

Rubin SI, Carr AP. 2007. Canine Internal Medicine Secrets. Mosby Elsevier. USA.

Tilley LP, Smith FWK. 2000. The 5 Minute Veterinary Consult Ver. 2. Lippincott Williams & Wilkins. USA.

 

 

Indonesia di mata dunia dikenal sebagai megabiodiversity country. Kondisi ini disebabkan oleh Indonesia merupakan negara yang menjadi tempat terkonsentrasinya keanekaragaman hayati dunia. Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak dalam lintasan distribusi keanekaragaman hayati benua Asia (Sumatera, Jawa, Kalimantan dan pulau-pulau disekitarnya), benua Australia (Papua dan pulau-pulau disekitarnya) dan wilayah peralihan Wallacea (Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara), sehingga Indonesia dikatakan sebagai salah satu kawasan pusat keragaman hayati yang terkaya di dunia. Indonesia mempunyai 25.000 spesies tumbuhan berbunga (10% dari tumbuhan berbunga dunia), 515 spesies mamalia (12% dari jumlah mamalia di dunia), 1500 spesies burung, 600 spesies reptilia dan 270 spesies amfibi.

Adanya keanekaragaman hayati yang berlimpah juga telah memberi warna tersendiri bagi perkembangan budaya nusantara, dimana budaya-budaya yang tumbuh telah melukiskan dengan baik keadaan alam nusantara. Indonesia adalah Salah satu contoh yang baik dari kawasan yang kaya akan  keanekaragaman hayati. Negara-negara lain pun ataupun kawasan-kawasan lain pun juga tak kalah menariknya dengan Indonesia. Kondisi ini terutama dapat dilihat di kawasan Asia Tenggara yang lain, India, Afrika dan kawasan Amerika Latin. Kawasan-kawasan tersebut pun telah memberi corak kehidupan bagi hijau dan birunya planet bumi. Beranekaragamnya biodiversitas kawasan-kawasan yang telah disebutkan tersebut dikarenakan oleh adanya iklim yang sama yaitu tropis dan sebagian kecil subtropis. Kawasan tropis identik dengan hutan rimba yang lebat, fauna-fauna yang eksotik, wilayah yang hangat sepanjang tahun, pemandangan alam yang menakjubkan dan budaya yang menawan. Kemungkinan kondisi ini disebabkan oleh keadaan iklim yang lebih stabil sehingga memungkinkan menjadi tempat hidup yang baik bagi sebagian besar organisme planet bumi

Akhir-akhir ini, isu lingkungan terbesar adalah hilangnya keanekaragaman hayati terutama di negara-negara tropis yang mempunyai keanekaragaman hayati terbesar. Kerusakan dan hilangnya keanekaragaman hayati sudah mencapai tingkat yang membahayakan dengan perkiraan apabila penebangan hutan terjadi terus menerus maka sekitar 5 – 10 % spesies yang ada di dunia akan punah setiap sepuluh tahun sampai 30 tahun mendatang. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab kerusakan keanekaragaman hayati di Indonesia dan dunia, yaitu adanya pembalakan liar, pembangunan besar-besaran/mega proyek seperti pembuatan jalan raya yang menembus hutan ataupun kawasan konservasi, pembangunan bendungan/waduk secara besar-besaran yang mengambil sebagian atau seluruh kawasan konservasi dan kegiatan pertambangan di kawasan konservasi atau taman nasional serta adanya perkebunan yang menggantikan heterogenitas tanaman hutan.

Selain itu, penyebab kerusakan keanekaragaman hayati yang tak kalah hebatnya adalah kepentingan ekonomi dimana terjadi peningkatan kegiatan industri yang selama ini cenderung tidak ramah lingkungan. Kegiatan ekonomi selama ini yang terjadi di Indonesia dan dunia hanyalah upaya untuk mengejar keuntungan sebesar-besarnya dengan cara eksploitasi alam dan lingkungan melalui peningkatan industrialisasi. Dengan hadirnya kemajuan teknologi untuk mendukung kegiatan ekonomi negara, maka eksploitasi alam pun semakin meningkat, misalnya munculnya upaya untuk menggantikan keanekaragaman menjadi keseragaman dan monokultur pada sektor kehutanan, perikanan, pertanian dan peternakan melalui penerapan revolusi hijau dalam bidang pertanian, revolusi putih dalam bidang perusahaan peternakan (perusahaan susu) dan revolusi biru dalam bidang perikanan yang tujuan akhirnya adalah keuntungan ekonomi sebesar-besarnya.

Kerusakan sumberdaya hayati di planet bumi yang telah ditunjukkan terutama negara-negara di kawasan tropis, terutama Indonesia akan terus berlanjut apabila belum adanya kesadaran dari semua pihak, baik masyarakat ataupun pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Untuk menghentikan kerusakan alam yang sudah tidak wajar ini setidaknya diperlukan semangat dan  idealisme tinggi untuk penyelamatan alam atau dalam kata lain diperlukan suara-suara baru yang menyuarakan ketidakadilan yang diterima planet bumi.

Apabila populasi masyarakat bumi saat ini semakin meningkat, maka tak diragukan lagi bahwa laju kerusakan alam dan sumberdaya hayati bumi akan meningkat pula dengan tajam karena kecenderungan manusia yang selalu berpikiran “ekonomi” tanpa disertai kesadaran “koservasi alam”. Kondisi seperti ini haruslah diimbangi dengan munculnya manusia-manusia yang berani menyuarakan ketidakadilan yang dialami planet bumi. Menyuarakan pun harus disertai suatu bukti, bukti tersebut dapat diperoleh melalui kajian atau riset yang mendalam tentang keanekaragaman hayati, kekayaan alam dan dampak perilaku manusia terhadap alam dan lingkungan. Setelah kajian berhasil memberi bukti, maka langkah selanjutnya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat umum atau peningkatan public awarenes mengenai alam, lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Apabila hal ini dilakukan maka masa depan planet bumi akan lebih baik. Kita harus selalu berpikiran bahwa kekayaan alam yang ada di planet bumi ini adalah titipan untuk generasi masa depan, bukanlah warisan.

Definisi

Ketosis adalah penyakit yang umum terjadi pada ternak dewasa. Ketosis dapat terjadi pada sapi perah ketika masa awal laktasi dan dicirikan oleh anoreksia dan depresi. Ketosis jarang terjadi pada masa kebuntingan akhir dan kasusnya menyerupai pregnancy toksemia pada domba. Ketosis tersebar di seluruh dunia, tetapi sering terjadi pada sapi perah dengan produksi susu tinggi. Semua sapi perah pada masa awal laktasi (6 minggu pertama) mempunyai resiko yang tinggi terhadap ketosis. Insidensi ketosis pada saat laktasi berkisar antara 5 – 16 %. Sapi dengan jaringan adiposa yang berlebihan (body condition score ≥ 3,75) pada saat beranak mempunyai resiko ketosis yang tinggi. Sapi laktasi dengan hiperketonemia (ketosis subklinis) akan meningkatkan resiko terjadinya ketosis klinis. Badan-badan keton meliputi aseton, asetoasetat, dan beta-hidroksibutirat.

Diagnosis klinis dari ketosis didasarkan pada keberadaan faktor resiko yaitu masa laktasi awal, gejala klinis yang muncul, dan badan keton di urine dan susu. Ketika diagnosis ketosis ditentukan maka seluruh pemeriksaan fisik harus ditentukan karena ketosis sering terjadi bersamaan dengan penyakit-penyakit peripartum, khususnya displasia abomasum, tertahannya membran fetus, dan metritis. Selain itu, rabies dan penyakit saraf lain merupakan diagnosa pembanding yang penting untuk diperhatikan.

 

Gejala klinis

Gejala klinis yang sering terjai pada ketosis adalah disfungsi saraf, pica, menjilat secara abnormal, langkah kaki yang abnormal dan inkoordinasi, melenguh, serta bersifat agresif. Ternak (sapi perah) yang partus dan asupan pakan yang rendah merupakan tanda awal terjadinya ketosis. Sapi yang menderita ketosis sering menolak pakan biji-bijian sebelum pemberian hijauan. Pada kelompok ternak akan telihat adanya penurunan produksi susu, lethargy, dan kosongnya abdomen. Ketika dilakukan pemeriksaan fisik akan didapatkan bahwa tidak terjadi demam dan sedikit dehidrasi. Sedangkan kelainan pada motilitas rumen sangat bervariasi antar sapi, serta sapi akan terlihat hiperaktif atau hipoaktif. Sedangkan pada banyak kasus ketosis tidak terlihat adanya kelainan secara fisik. Gangguan CNS merupakan kasus yang minoritas.

Patogenesa

Patogenesa dari ketosis belum diketahui secara pasti, tetapi ketosis terjadi dari kombinasi anatara mobilisasi adiposa yang hebat dan kebutuhan glukosa yang tinggi pada tubuh. Kedua kondisi tersebut dapat terjadi pada masa laktasi awal. Mobilisasi adiposa seiring dengan konsentrasi nonesterified fatty acids (NEFA) di serum darah. Selama periode glukoneogenesis, sebagian besar serum NEFA akan disintesis menjadi badan keton di hati. Secara patologi klinik dapat dicirikan oleh konsentrasi serum NEFA yang tinggi dan badab keton, serta konsentrasi glukosa yang rendah.

Selain itu terdapat kemungkinan bahwa patogenesis dari ketosis terjadi segera setelah postpartus. kasus ketosis pada masa awal laktasi biasanya berkaitan dengan fatty liver. Fatty liver dan ketosis kemungkinan bagian dari kondisi yang berkaitan dengan mobilisasi lemak yang hebat pada ternak. Kasus ketosis juga terjadi pada masa puncak produksi susu, yang biasanya terjadi sekitar 4 – 6 minggu postpartus, dan hal ini kemungkinan terkait dengan pakan yang rendah sehingga menyebabkan terjadinya glukoneogenesis yang menghasilkan mobilisasi lemak yang hebat.

Pengobatan

Pengobatan pada kasus ketosis bertujuan untuk meningkatkan normoglisemia dan menurunkan konsentrasi badan-badan keton serum. Pengobatan terhadap ketosis dapat diberikan bolus dextrose 50 % intravena sebanyak 500 ml yang merupakan terapi umum. Larutan tersebut bersifat hiperosmotik dan apabila diberikan secara perivaskular akan menyebabkan pembengkakan jaringan dan iritasi jaringan. Terapi bolus glukosa dapat secara umum menghasilkan recoveri yang cepat, khususnya kasus yang terjadi mendekati puncak laktasi. Pemberian preparat glukokortikoid, seperti dexamethason atau isoflupredone acetate sebanyak 5 – 2 mg/dosis secara IM dapat menghasilkan respon yang baik. Terapi glukokortikoid dan glukosa dapat diberikan berulang jika diperlukan. Propylene glycol (250 – 400 g/dosis, secara PO) dapat berperan sebagai prekursor glukosa dan mungkin efektif untuk terapi ketosis, khususnya pada kasus ringan atau diberikan secara kombinasi dengan terapi yang lain. Propylene glycol dapat diberikan dua kali sehari, serta dosis yang berlebihan dapat menyebabkan penekanan pada CNS.

Kasus ketosis yang terjadi pada 1 – 2 minggu pertama beranak susah untuk dilakukan terapi daripada kasus ketosis yang terjadi mendekati puncak laktasi. preparat insulin yang bersifat long-acting secara IM dengan dosis 150 – 200 IU/hari dapat digunakan untuk mengatasi kondisi ini. Insulin akan menekan mobilisasi adiposa dan ketogenesis, tetapi terapi ini harus diberikan secara kombinasi dengan glukosa atau glukokortikoid untuk mencegah hipoglisemia.

Pencegahan dan kontrol

Pencegahan ketosis dapat dilakukan dengan manajemen nutrisi. Selain itu kondisi tubuh juga harus diperhatikan pada laktasi akhir, serta ketika sapi menjadi terlalu gemuk. Karena periode kering kandang merupakan cara yang terlambat untuk menurunkan body condition score maka penurunanan body condition score mungkin kurang berhasil sehingga dapat menghasilkan mobilisasi adiposa yang berlebihan.

Sapi cenderung mengurangi konsumsi pakan pada 3 minggu akhir kebuntingan, sehingga manajemen nutrisi harus bertujuan untuk mengurangi penurunan asupan pakan pada sapi. Asupan pakan harus selalu diperhatikan dan rasio pakan harus disesuaikan untuk memaksimalkan bahan kering dan konsumsi energi pada akhir kebuntingan. setelah partus, maka nutrisi harus ditingkatkan konsumsi pakan dan energi. Rasio pakan yang diberikan adalah peningkatan konsentrasi karbohidrat nonserat, tetapi mengandung serat untuk menjaga kesehatan rumen dan asupan pakan. Beberapa zat aditif seperti niasin, kalsium propionat, sodium propionat, propilen glikol, dan choline pelindung rumen merupakan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk manajemen ketosis. Bahan-bahan tersebut dapat diberikan pada 2 – 3 minggu akhir kebuntingan, yang merupakan periode rentan terhadap kejadian ketosis.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Ketosis in Cattle. http:// www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp@cfile=htm_2Fbc_2F80900. htm [5 Desember 2009].

Endometritis pada Sapi

Endometritis merupakan peradangan pada lapisan mukosa uterus (Boden 2005). Menurut Ball dan Peters (2004), endometritis merupakan peradangan pada endometrium dan membran mukosa uterus yang sering disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Menurut Noakes et al. (2001), endometritis dan metritis merupakan salah satu penyebab kemajiran pada ternak.
Endometritis pada ternak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu endometritis klinis dan endometritis subklinis. Secara klinis, endometritis lebih prevalen pada sapi-sapi yang mature. Sapi dengan endometritis dapat didiagnosa berdasarkan palpasi perektal dengan hasil berupa tidak terabanya struktur ovarium. Sedangkan endometritis subklinis dapat didefinisikan sedagai inflamasi pada uterus yang biasanya ditentukan dengan pemeriksaan sitologi, tidak adanya eksudat purulenta di vagina. Endometritis subklinis biasanya terjadi ketika proses involusi sudah lengkap (sekitar 5 minggu pospartus). Endometritis subklinis dapat didiagnosa dengan pengukuran perbandingan neutrofil pada sample flushing lumen uterus pada volume rendah (20 ml) dengan menggunakan larutan saline steril (Divers dan Peek 2008). Menurut LeBlanc et al. (2002) diacu dalam Ball dan Peters (2004), identifikasi endometritis klinis dapat dilakukan dengan melihat adanya discharge purulent pada uterus atau diameter cervix sekitar 7,5 cm setelah 20 hari pospartus (selama laktasi), selain itu juga dapat terlihat adanya discharge mucopurulent setelah lebih dari 26 hari postpartus.
Beberapa penyakit yang berkaitan dengan kondisi endometritis pada sapi diantaranya adalah brucellosis, leptospirosis, campylobacteriosis, dan trichomoniasis. Selain itu, endometritis juga disebabkan oleh infeksi yang nonspesifik. Mikroorganisme penyebab endometritis pada sapi adalah Brucella sp., Leptospira sp., Campylobacter, Trichomonas, Arcanobacterium (Actinomyces) pyogenes, dan Fusobacterium necrophorum atau organisme gram negatif anaerob lainnya (Anonim 2008a). Menurut Noakes et al. (2001), derajat kontaminasi bakteri pada uterus sering terjadi selama partus dan setelah partus, serta dapat terjadi ketika coitus dan inseminasi. Infeksi yang persisten tergantung pada derajat kontaminasi bakteri, mekanisme pertahanan inang, dan keberadaan substrat untuk pertumbuhan bakteri.
Uterus normal merupakan lingkungan yang bersifat steril, sedangkan vagina merupakan lingkungan yang tidak steril karena mengandung banyak mikroorganisme. Patogen yang bersifat oportunistik dari flora normal vagina atau dari lingkungan luar dapat masuk ke dalam uterus. Uterus pada kondisi normal dapat melakukan pembersihan secara efisien terhadap mikroorganisme yang masuk dari vagina atau lingkungan luar. Namun, uterus pada saat postpartus biasanya terkontaminasi oleh beragam mikroorganisme dan ketika terjadi infeksi yang bersifat persisten, maka infeksi akan berkembang menjadi endometritis kronis atau subakut dan kondisi ini akan merusak fertilitas ternak (anonim 2008a). Sedangkan menurut Noakes et al. (2001), uterus pada kondisi normal mempunyai beberapa mekanisme pencegahan terhadap patogen oportunistik dari saluran reproduksi. Mekanisme pertama adalah barrier fisik yang berupa sphincter vulva dan cervix, sphincter vulva dapat melindungi saluran reproduksi dari kontaminasi feses yang dikeluarkan oleh saluran pencernaan. Mekanisme kedua adalah pertahanan secara lokal dan sistemik di uterus, kedua mekanisme pertahanan tersebut sangat dipengaruhi oleh hormon steroid reproduksi (estrogen dan progesteron). Hal ini berarti bahwa saluran reproduksi akan lebih resisten terhadap infeksi apabila kadar estrogen meningkat (dominan), sedangkan ketika kadar progesteron lebih dominan, maka saluran reproduksi lebih rentan terhadap infeksi.
Menurut Noakes et al. (2001), konsentrasi estrogen terjadi saat estrus dan partus, kondisi ini menyebabkan perubahan pada jumlah dan perbandingan sel-sel darah putih yang bersirkulasi (dengan neutrofilia relatif). Kondisi estrus menyebabkan suplai darah ke uterus mengalami peningkatan karena dipengaruhi oleh hormon estrogen yang meningkat, selain itu, pada saat partus juga terjadi peningkatan suplai darah ke uterus bunting. Peningkatan suplai darah tersebut diikuti oleh migrasi sel-sel darah putih dari sirkulasi darah ke lumen uterus, sehingga memungkinkan terjadi proses fagositosis yang aktif. Estrogen juga dapat menyebabkan peningkatan jumlah vaginal mucus yang berperan penting dalam mekanisme pertahanan uterus terhadap bakteri dengan cara menyediakan barrier fisik uterus dan mekanisme flushing dan pengenceran bakteri kontaminan. Sehingga pada kondisi tersebut, kontaminasi bakteri tidak mengganggu kesehatan uterus.
Infeksi uterus yang menyebabkan peradangan uterus dapat terjadi oleh adanya kerusakan barrier mekanis/barrier fisik yang melindungi uterus. Kelainan lain yang menyebabkan peradangan uterus adalah kerusakan vulva/gangguan kemampuan vulva untuk berfungsi normal. Selain itu, kelainan yang menyebabkan infeksi berat pada lumen uterus adalah kerusakan/kelainan pada cervix, khususnya kondisi yang bersamaan dengan kelainan/kerusakan pada vulva. Kelainan mekanisme pertahanan alami pada saat partus dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah distokia, retensio secundinae, penyakit-penyakit metabolis, dan fatty liver disease. Infeksi uterus pada kondisi ini disebabkan oleh dominasi progesteron sehingga uterus lebih rentan terhadap infeksi. Selain itu, pada kondisi fase luteal yang diperpanjang dapat menyebabkan kontaminan yang bersifat non-spesific menjadi bersifat patogen, serta pada kondisi corpus luteum persisten atau luteal cysts juga sering berkaitan dengan infeksi uterus. Uterus yang mengalami infeksi menyebabkan kerusakan epitel endometrium dan akan menyebabkan uterus tidak mampu mensekresikan hormon PGF2α, sehingga corpus luteum menjadi tertahan dan dapat memicu terjadinya infeksi uterus (Noakes et al. 2001).
Menurut Ball dan Peters (2004), endometritis sering disebabkan oleh kelanjutan distokia atau retensio secundinae dan sering berkaitan dengan penurunan laju involusi uterus pada periode pospartus. Kondisi endometritis sering diikuti oleh keadaan corpus luteum persisten sehingga kejadian infeksi dapat terjadi terus menerus karena kadar estrogen sangat rendah yang berfungsi dalam mekanisme pembersihan uterus.
Infeksi uterus oleh Arcanobacterium (Actinomyces) pyogenes atau infeksi bersama dengan Fusobacterium necrophorum atau bakteri gram negatif anaerob lainnya menghasilkan gejala klinis berupa eksudat purulenta dari uterus dan vagina yang terlihat seperti jonjot-jonjot putih. Eksudat tersebut dapat dibedakan dari eksudat estrus, yaitu eksudat estrus mempunyai penampakan berupa eksudat yang jernih. Gejala klinis lainnya adalah perubahan konsistensi uterus yang dapat terlihat dari palpasi rektal. Sensitivitas dan spesifitas diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan menggunakan speculum dan pemeriksaan (pengukuran) cytology endometrium. Gejala klinis yang terlihat pada sapi adalah kesakitan, penurunan nafsu makan, dan penurunan produksi susu. Namun, sapi perah di lapangan yang mengalami kondisi endometritis tidak menunjukkan gejala kelemahan, tidak terjadi penurunan nafsu makan, serta tidak menunjukkan peningkatan temperatur tubuh (Anonim 2008a).
Menurut anonim (2008a), treatmen endometritis pada sapi dapat dilakukan dengan infusi antimicrobial secara intrauterine. Selain dapat membersihkan bakteri dalam uterus, infusi antimikrobial intrauterine juga dapat memperbaiki fertilitas sapi. Infusi cephapirin intrauterine dapat meningkatkan fertilitas pada sapi perah pada saat endometritis. Namun, infusi antibiotik yang diberikan dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kerusakan jaringan uterus dan peningkatan residu di susu dan karkas. Apabila terjadi gejala kesakitan maka terapi yang diberikan dapat berupa pemberian antibiotik sistemik. Terapi lain yang dapat diberikan untuk mengatasi endometritis pada sapi adalah pemberian preparat PGF2α untuk menstimulasi kontraksi uterus dan pengeluaran eksudat.
Menurut Noakes et al. (2001), terapi yang dapat diberikan untuk mengatsi endometritis diantaranya adalah antibiotika spektrum luas dan sistemik, terapi cairan, dan pemberian NSAIDs. Antibiotik sistemik tersebut yang sering diberikan adalah oxytetracycline dengan dosis 22 mg/kg secara iv atau im. Selain itu juga dilakukan pemberian abtibiotik secara infusi yang berupa tetrasiklin dengan rute intrauterine untuk mengatasi endometritis ringan. Terapi lain yang diberikan adalah preparat PGF2α secara intrauterine yang bertujuan untuk melisiskan CL, dan pemberian preparat oxytocin dengan rute IM untuk mengeluarkan cairan dan debris peradangan di uterus. Pemberian oestradiol benzoate 3 – 5 mg secara IM bersamaan dengan pemberian antibiotika dapat meningkatkan aliran darah ke uterus sehingga meningkatkan penyerapan antibiotik. Namun, dosis tinggi tanpa pemberian antibiotik dapat meningkatkan aliran darah ke uterus dan meningkatkan penyerapan toksin dari bakteri, serta meningkatkan terjadinya folikulogenesis yang dapat menyebabkan cystic ovari.
Infusi intrauterine merupakan treatmen utama terhadap endometritis pada sapi. Mode of therapy dari infusi intrauterine mempunyai efek yang menguntungkan terhadap penampilan reproduksi sapi perah selanjutnya. Pemberian cephapirin, yang merupakan generasi pertama cephalosporin secara efektif dapat meningkatkan penampilan reproduksi pada sapi perah. Cephapirin mempunyai waktu yang singkat terhadap kebuntingan.

Satwa liar merupakan kekayaan alam yang perlu dijaga kelstariannya, melalui upaya konservasi yang dilaksanakan di dalam atau di luar habitat aslinya. Kelestarian satwa liar atau konservasi satwa liar dapat diusahakan dengan dua cara yaitu konservasi in-situ dan konservasi ek-situ, dan dalam hal ini penangkaran satwa liar termasuk ke dalam konservasi ek-situ dimana konservasi ek-situ mempunyai fungsi utama yaitu sebagai fungsi ekologis serta fungsi sosio-ekonomi dan sosio-budaya. Selain itu, penangkaran satwa langka atau satwa liar merupakan salah satu aspek dalam konservasi sumberdaya hayati dimana hal ini diatur dalam undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya hayati dan ekosistemnya. Undang-undang ini memberi batasan pada pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaan sumberdaya alam hayati dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Konservasi satwa langka dengan usaha penangkaran harus dapat memenuhi tiga kegiatan yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis satwa dan ekosistemnya, serta pemenfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Manfaat dari penangkaran satwa liar (konservasi ek-situ) adalah memenuhi kebutuhan jangka panjang cadangan plasma nutfah, sebagai bahan analisis, bahan penelitian, bahan perkembangbiakan atau persilangan, bahan pemuliaan, sebagai back up satwa liar terhadap jenis satwa liar yang di alam, sumber bahan reintroduksi, pengganti populasi liar untuk riset biologi populasi dan sosio biologinya, untuk pendidikan masyarakat serta untuk obyek rekreasi.

Pelestarian satwa langka Indonesia yang merupakan bagian dari sumberdaya hayati telah menjadi komitmen nasional setelah pemerintah Indonesia meratifikasi Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) melalui Keputusan Presiden RI Nomor 43 Tahun 1978, yang selanjutnya membawa konsekuensi perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilaksanakan pemerintah Indonesia harus mengikuti ketentuan-ketentuan CITES, selain itu pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Convention) melalui Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994.

Pemanfaatan Satwa Liar

Pemanfaatan dan Penangkaran Satwa langka diatur oleh peraturan pemerintah No. 8 Tahun 1999 yang berupa pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perburuan, perdagangan, peragaan, pertukaran, budidaya tanaman obat-obatan, serta pemeliharaan untuk kesenangan. Pemanfaatan satwa liar diawali dari kegiatan penangkapan satwa liar dari alam (habitat alam) ataupun pengambilan satwa liar dari hasil penangkaran terhadap jenis-jenis yang termasuk dalam Appendiks CITES maupun Non-Appendiks CITES baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi. Setiap orang atau badan usaha yang akan melakukan pemanfaatan satwa liar secara komersial di dalam negri maka harus mendapat izin pemanfaatan komersial dalam negri berupa izin mengedarkan spesimen satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang atau satwa yang dilindungi sebagai hasil penangkaran atau satwa yang telah ditetapkan sebagai satwa buru di dalam negri. Sedangkan badan usaha atau orang yang akan melakukan kegiatan pemanfaatan satwa liar secara komersial ke luar negri maka harus mendapat izin pemanfaatan komersial ke luar negri berupa izin mengedarkan spesimen satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang atau satwa yang dilindungi sebagai hasil penangkaran ke luar negri.

Perdagangan jenis satwa liar harus diawali dengan penetapan kuota pengambilan atau penangkapan satwa liar dari alam yang merupakan batas maksimal jenis dan jumlah spesimen satwa liar yang dapat diambil dari habitat alam. Penetapan kuota pengambilan atau penangkapan satwa liar didasarkan pada prinsip kehati-hatian dan dasar-dasar ilmiah untuk mencegah terjadinya kerusakan atau degradasi populasi. Penetapan kuota pengambilan atau penangkapan satwa liar dilakukan oleh Direktur Jendral PHKA berdasarkan rekomendasi LIPI. Penyusunan kuota didasari bahwa ketersediaan data potensi satwa liar yang menggambarkan populasi dan penyebaran setiap jenis masih sangat terbatas, sehingga membutuhkan peran LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan perguruan tinggi untuk membantu memberikan informasi mengenai potensi dan penyebaran jenis satwa liar yang dapat dimanfaatkan.

Perijinan dalam penangkapan satwa lair diterbitkan oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) berdasarkan kuota wilayah yang ada. Perijinan badan usaha atau perorangan yang akan melakukan peredaran satwa liar di dalam negri diterbitkan oleh kepala BKSDA dimana badan usaha atau perorangan yang memegang izin sebagai pengedar satwa liar di dalam negri yang akan mengambil atau menangkap satwa berkewajiban untuk mempunyai tempat dan fasilitas penampungan satwa liar yang memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh Dirjen PHKA. Sedangkan peredaran satwa liar ke luar negri harus sesuai izin BKSDA dan sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan CITES.

Kegiatan penangkaran dan perdagangan satwa langka diperlukan suatu upaya pengendalian dan pengawasan dari tingkat kegiatan pengambilan atau penangkapan spesimen satwa liar, pengawasan peredaran dalam negri serta pengawasan peredaran ke luar negri dan dari luar negri. Pengawasan dan pengendalian ini dilakukan oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Pengendalian dan pengawasan perdagangan satwa juga dilakukan terhadap penangkapan satwa liar dari alam, hal ini bertujuan supaya satwa liar dapat dimanfaatan sesuai dengan izin yang diberikan (tidak melebihi kuota tangkap), supaya penangkapan spesimen satwa liar tidak merusak habitat atau populasi di alam, serta untuk spesimen yang dimanfaatkan dalam keadaan hidup supaya tidak menimbulkan kematian dalam jumlah yang banyak yang disebabkan oleh cara pengambilan atau penangkapan yang tidak benar.

Pengendalian perdagangan satwa liar di dalam negri harus dilakukan dengan upaya pengendalian dalam penerbitan SATS-DN (Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negri), pemeriksaan stok satwa yang ada pada pengedar ataupun penangkar satwa, serta pemeriksaan stok yang akan dimohonkan SATS-LN atau yang akan diekspor. Dalam pelaksanaan pengendalian dan pengawasan peredaran satwa liar di dalam negri maka BKSDA telah bekerjasama dengan Balai/Kantor Karantina Hewan yang ada di daerah. Sedangkan untuk peredaran ke luar negri maka BKSDA melakukan kerja sama dengan Balai/Kantor Karantina dan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, kepolisisn, serta Departemen Perdagangan (Deperindag).

Penangkaran satwa liar atau pemeliharaan satwa liar di luar habitat aslinya (ek-situ) harus dilakukan oleh lembaga konservasi yang dapat berbentuk kebun binatang, museum zoologi dan taman satwa khusus. Kewajiban lembaga konservasi dalam pemeliharaan satwa liar di luar habitat aslinya diantaranya adalah memenuhi standar kesehatan satwa, menyediakan tempat yang cukup, luas, aman dan nyaman, serta mempunyai dan mempekerjakan tenaga ahli dalam bidang medis dan pemeliharaan. Sedangkan kewajiban yang harus dipenuhi lembaga konservasi dalam pengembangbiakan satwa liar di luar habitat aslinya (ek-situ) adalah menjaga kemurnian jenis, menjaga keanekaragaman genetik, melakukan penandaan dan sertifikasi, serta membuat buku daftar silsilah (studbook). Perizinan lembaga konservasi satwa liar diberikan untuk jangka waktu 30 tahun dan setelah divaluasi dapat diperpanjang. Lembaga konservasi satwa liar mempunyai hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Hak lembaga konservasi eksitu adalah menerima jenis satwa baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi sesuai dengan izin, memperagakan satwa yang dipelihara dalam area pengelolaannya kepada umum, mengadakan kerjasama antar lembaga konservasi baik di dalam negri maupun di luar negri (dalam bentuk pengembangan ilmu pengetahuan, pertukaran jenis satwa, dan bantuan-bantuan teknis), melakukan penelitian jenis satwa liar, menerima imbalan atas jasa yang dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku, serta memanfaatkan hasil penangkaran satwa sesuai ketentuan yang berlaku. Sedangkan kewajiban yang harus dipenuhi antara lain adalah membuat rencana karya pengelolaan, menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan, memelihara dan menangkarkan jenis satwa sesuai dengan ketentuan yang berlaku, mempekerjakan tenaga ahli sesuai bidangnya, tidak memperjualbelikan satwa liar yang dilindungi, serta membuat laporan pengelolaan secara berkala termasuk mutasi jenis satwa.

Peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah dalam penangkapan, penangkaran dan perdagangan satwa liar atau satwa langka dimaksudkan untuk menjaga kelestarian satwa liar beserta habitatnya karena satwa adalah sebagai penjaga ekosistem serta untuk mencegah terjadinya perburuan ataupun perdagangan ilegal satwa liar atau satwa langka.

Penangkaran Satwa Liar

Penangkaran satwa liar di Indonesia yang merupakan suatu bentuk konservasi ek-situ untuk melindungi kelestarian jenis masih mempunyai banyak permasalahan yang harus segera diatasi supaya kelestarian dan keseimbangan ekosistem dapat terwujud. Permaslahan secara umum dalam pengelolaan konservasi ek-situ satwa liar adalah ukuran populasi yang terbatas, hal ini disebabkan oleh luas area pengelolaan/pemeliharaan/penangkaran satwa liar sangat terbatas dan tidak terlalu besar sehingga populasi yang ditampung juga terbatas. Permasalahan umum lainnya adalah terjadinya penurunan kemampuan adaptasi, daya survive dan keterampilan belajar satwa, kondisi ini disebabkan oleh keadaan satwa liar di lembaga konservasi sangat bergantung kepada manusia sehingga sifat alamiahnya semakin lama semakin menurun. Permasalahan lainnya adalah variabilitas genetik satwa liar yang terbatas karena di dalam lembaga konservasi ek-situ, satwa liar hanya mendapat pasangan reproduksi yang sama dalam reproduksinya sehingga akan melemahkan sumberdaya genetik satwa liar. Selain itu, dana yang besar juga merupakan kendala yang dihadapi dalam konservasi ek-situ satwa liar, hal ini disebabkan oleh bentuk lembaga konservasi merupakan suatu bentuk usaha yang padat modal.

Dasar Kebijakan dan Penangkaran Burung

kegiatan penangkaran satwa burung didasarkan pada peraturan pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, serta PP No. 8 tahun 1999 tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. kegiatan penangkaran burung dan satwa liar lainnya dapat dilakukan di setiap daerah dengan memperhatikan kondisi populasi, habitat dan tingkat ancaman kepunahannya. kegiatan penangkaran burung dan satwa liar lainnya sekaligus koleksinya juga merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam pembangunan konservasi sumberdaya alam yang dalam hal ini merupakan implikasi dari berlakunya UU No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. UU No. 32 Tahun 2004 mengatur bahwa perijinan dan pemanfaatan sumber daya alam dilakukan bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999, kegiatan koleksi dan penangkaran burung di daerah merupakan bagian dari pengelolaan satwa burung di luar habitatnya (ek-situ) dengan maksud untuk menyelamatkan sumber daya genetik dan populasi jenis satwa burung. Kegiatan tersebut meliputi pemeliharaan, perkembangbiakan, serta penelitian dan pengembangannya. Kegiatan pemeliharaan burung di luar habitat alaminya mempunyai kewajiban yaitu memenuhi standar kesehatan satwa burung, menyediakan tempat yang cukup luas, tempat yang aman dan nyaman, serta mempunyai dan mempekerjakan tenaga ahli dalam bidang medis dan pemeliharaan. kegiatan pengembangbiakan jenis satwa burung dilaksanakan untuk pengembangan populasi di alam supaya tidak punah.

pemeliharaan satwa burung di luar habitat alaminya (ek-situ) tidak hanya menitikberatkan pada obyek burung saja tetapi juga harus mempertimbangkan kesiapan lingkungan, yang meliputi lingkungan biologi (habitat burung) dan lingkungan fisik (kandang). Dalam lingkungan biologi harus diperhatikan mengenai tumbuhan yang sesuai dengan habitat burung serta kerapatan dan arsitektur tajuk. sedangkan kandang yang merupakan bentuk lingkungan fisik harus disesuaikan dengan jenis burung yang akan dipelihara (termasuk karakteristik biologisnya), jumlah burung, ketersediaan lahan dan dana, serta kandang harus ditempatkan sesuai dengan peruntukkannya. Tujuan dari kesiapan lingkungan adalah supaya satwa burung yang akan dipelihara dapat melakukan adaptasi dengan baik dan cepat terutama untuk jenis-jenis satwa burung yang membutuhkan lindungan.

Persiapan pemeliharaan satwa burung di luar habitatnya (ek-situ) tidak begitu saja bebas dari permasalahan, beberapa permasalahan dalam penyediaan lingkungan biologi dan lingkungan fisik masih sering dijumpai dalam pemeliharaan maupun penangkaran satwa burung dan satwa liar lainnya, misalnya adalah beberapa penangkar masih belum memperhatikan dalam hal pemilihan lokasi kandang dimana kandang belum ditempatkan pada lokasi yang jauh dari keramaian dimana burung dalam perkembangbiakannya membutuhkan kondisi yang nyaman dan sesuai dengan habitatnya, jika kandang ditempatkan di lokasi yang dekat dengan keramaian maka dapat mengancam keberhasilan pengembangbiakan satwa burung yang secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh kepada kelestarian satwa burung di alam. permasalahan lain dalam pemeliharaan dan penangkaran satwa burung adalah bentuk dan ukuran kandang yang tidak sesuai peruntukkannya, misalnya ukuran kandang yang tidak disesuaikan dengan ukuran tubuh satwa burung dan populasi burung serta belum terdapat pembagian kandang yaitu belum tedapat pemisahan antara kandang koloni, kandang perkembangbiakan, kandang penyapihan dan kandang karantina.

Pemeliharaan dan penangkaran burung tidak bisa terlepas dari adanya SOP atau prosedur operasional standar untuk mendukung keberhasilan pemeliharaan dan penagkaran satwa burung. penerapan SOP dalam kegiatan pemeliharaan burung dimaksudkan supaya satwa burung yang dipelihara dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik. selain itu, manfaat lainnya adalah melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan dari penyakit yang bersifat zoonosis. SOP yang dibuat harus meliputi tatacara pengadaan, adaptasi dan penempatan burung, pengelolaan pakan dan obat-obatan, pengelolaan kebersihan atau sanitasi kandang dan lingkunag, pengelolaan kesehatan dan pengendalian penyakit, karantina, pengelolaan reproduksi, pembesaran anak, serta pengelolaan sistem pencatatan kejadian dan perkembangan burung (recording).

Walaupun manfaat ekologis dari penangkaran satwa burung relatif kecil tetapi penangkaran terbukti mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan yang cukup besar. Secara sosio-ekonomi, manfaat yang dirasakan dalam penangkaran burung adalah munculnya berbagai pekerjaan masyarakat yang terkait dengan pembuatan sangkar, penyediaan pakan hidup dan perawatan. Manfaat penangkaran satwa burung secara sosio-budaya berdampak pada kelestarian budaya suku tertentu yaitu misalnya budaya suku jawa yang memanfaatkan satwa burung sebagai hewan peliharaan.