coretan seputar dunia veteriner

Semakin berkembangnya dunia medis ke arah kemajuan ternyata menyisakan beberapa permasalahan yang dapat membahayakan kesehatan makhluk hidup (manusia dan hewan), salah satu masalah yang muncul akhir-akhir ini adalah MRSA (Methicillin resistant Staphylococcus aureus).
Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah strain bakteri Staphylococcus aureus yang resisten terhadap methicillin dan antibiotik golongan beta laktam lainnya seperti penicillin dimana antibiotik golongan ini merupakan antibiotik yang sering digunakan. MRSA pertama kali dilaporkan pada tahun 1961, yang terjadi pada waktu penggunaan methicillin untuk mengatasi infeksi bakteri Staphylococcus yang resisten terhadap penicillin pada manusia. Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pertama kali dilaporkan sebagai infeksi nosokomial di rumah sakit. MRSA merupakan patogen utama pada manusia, pada awalnya merupakan bakteri yang menyebabkan bahaya baru di rumah sakit sekitar tahun 1970 dan kemudian menyebar ke seluruh dunia, dan merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat saat ini. Awalnya MRSA terbatas di sekitar rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya, kemudian adanya pemberian antibiotik telah menjadi faktor resiko dari infeksi MRSA. Banyak infeksi MRSA yang berkaitan dengan rumah sakit menyebabkan komplikasi serius dan kemudian menjadi resisten terhadap semua antibiotik oral. Beberapa strain virulen MRSA menjadi bahaya baru pada komunitas manusia yang dapat menyebabkan abses, bisul, dan infeksi jaringan lunak lainnya. Selain mengancam kesehatan manusia, MRSA juga merupakan ancaman terhadap kesehatan hewan. Kasus MRSA pernah dilaporkan pada hewan kesayangan dan hewan pangan, serta pada manusia yang berhubungan dengan hewan tersebut, seperti pemilik hewan, petani, peternak dan dokter hewan. Kejadian MRSA di hewan pertama kali dideteksi pada susu dari sapi yang menderita mastitis (radang ambing), dan kemudian ditemukan di anjing, kucing, kuda, babi, domba, kelinci, ayam, dan beberapa satwa eksotik.
Infeksi dari bakteri Staphylococcus sp pada umumnya menyebabkan infeksi purulenta (nanah), scalded skin syndrome yang merupakan kematian lapisan kulit epidermis bagian superfisial sehingga lapisan akan terpisah, serta enterotoksik ketika bakteri tersebut tumbuh pada bahan pangan dimana toksin tersebut dapat menyebabkan Staphylococcal gastroenteritis (keracunan pangan) ketika pangan dikonsumsi oleh manusia. Karena resistensi dari bakteri Staphylococcus sp terhadap antibiotika yang umum digunakan menjadikan MRSA masih merupakan masalah kesehatan yang harus segera dipecahkan dan dicari jalan keluarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: