coretan seputar dunia veteriner

Seringkali kita mendengar tentang glukosamin dan chondroitin sulfat dalam treatment penyakit yang berhubungan dengan tulang baik pada hewan ataupun manusia, terutama pada kondisi canine hip dysplasia di anjing.

Menurut Piermattei et al. (2006), glukosamin adalah bahan pembentuk glikosaminoglikan (GAG) di kartilago dan pembentuk asam hyaluronat di cairan sinovial. Sedangkan chondroitin sulfate merupakan komponen dominan glikosaminoglikan di kartilago persendian. Menurut Tilley dan Smith (2000), terapi glukosamin sering dikombinasikan dengan chondroitin sulfate, misalnya adalah cosequin®. Cosequin mengandung glukosamin HCl dan chondroitin sulfate. Cosequin dapat menstimulasi sintesis cairan sinovial dan menghambat degradasi kartilago persendian, serta meningkatkan persembuhan dari kartilago persendian, sehingga cosequin dapat digunakan untuk terapi terhadap degenerative joint disease atau osteoarthritis. Menurut Piermattei et al. (2006), glukosamin bekerja dengan cara menyediakan stimulus dan bahan dasar untuk sintesis glikosaminoglikan dan juga menurunkan stromelysin pada RNA di chondrocyte. Sedangkan chondroitin sulfate bekerja dengan cara menstimulasi sintesis glikosaminoglikan dan sintesis proteoglikan, serta secara kompetitif akan menghambat enzim-enzim yang bersifat degradatif di kartilago dan sinovial.

Menurut Martin (2004), glukosamin ditemukan di semua jaringan, tetapi konsentrasi tertinggi terdapat pada hati, ginjal, dan kartilago. Glukosamin merupakan bahan dasar yang dibutuhkan untuk biosintesis beberapa komponen yang terlibat pada struktur dan fungsi persendian, diantaranya adalah glikolipid, glikoprotein, glikosaminoglikan, hyaluronat, dan proteoglikan. Glukosamin merupakan komponen esensial pada membran sel dan protein permukaan sel. Secara langsung atau tidak langsung, glukosamin berperan terhadap pembentukan permukaan persendian, tendo, ligamentum, cairan sinovial, kulit, tulang, katup jantung, pembuluh darah, serta sekresi mukus di organ pencernaan, respirasi, dan sistem urinari.

Menurut Marsden et al. (2004a), glukosamin tersusun dari asam amino (glutamine) dan glukosa. Secara umum, tubuh dapat memproduksi glukosamin, tetapi selama periode perbaikan/persembuhan kartilago diduga produksi glucosamine tubuh mengalami penurunan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa glukosamin mempunyai aktivitas menghambat siklo-oksigenase, aktivitas tersebut sama dengan aktivitas aspirin dan NSAIDs. Glukosamin secara alami diproduksi oleh tubuh, sedangkan suplemen glukosamin merupakan glukosamin sintetik dari chitin. Chitin merupakan substansi yang diperoleh dari kulit Crustacea. Terapi glukosamin dapat diberikan secara peroral, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa absorpsi glukosamin jika diberikan secara peroral adalah sebesar 87%. Sedangkan pemberian terapi glukosamin secara parenteral mempunyai efek yang lebih menguntungkan dalam menurunkan manifestasi kondisi hip dysplasia tahap awal pada anjing. Glukosamin tersedia dalam tiga bentuk, diantaranya adalah glukosamin sulfat, glukosamin hydrochloride, dan N-acetylglucosamine. Glukosamin hydrochloride merupakan garam D-glucosamine yang akan diubah menjadi bentuk glukosamin sulfat. Peneltian telah menunjukkan bahwa glukosamin hydrochloride dan glukosamin sulfat lebih efektif daripada N-acetylglucosamine. Umumnya suplemen glukosamin mengandung chondroitin sulfate. Glukosamin merupakan prekursor chondroitin.

Menurut Adebowale et al. (2000), Chondroitin sulfate merupakan glikosaminoglikan yang tersusun dari glucuronic acid dan galactosamine. Ketika diberikan secara peroral, chondroitin sulfate mampu menurunkan nyeri dan memperlambat perkembangan osteoarthritis pada manusia. Pemberian bersama dengan glukosamin dapat digunakan untuk terapi terhadap osteoarthritis. Chondroitin sulfate merupakan komponen utama matriks ekstraseluler dan berperan penting dalam menjaga integritas jaringan. Fungsi khusus diantaranya adalah agregasi proteoglikan (proteoglikan aggrecan, versican, brevican, dan neurocan). Sebagai bagian dari proteoglikan aggrecan, chondroitin sulfate merupakan komponen utama dari kartilago. Efek dari chondroitin sulfate terhadap pasien osteoarthritis diantaranya adalah mempunyai efek anti-inflamasi, stimulasi proteoglikan dan asam hyaluronat, serta penurunan aktivitas katabolisme terhadap chondrocyte, sehingga dapat menghambat sintesis enzim-enzim proteolisis, nitric oxide, dan substansi lain yang dapat menyebabkan kerusakan matriks kartilago dan juga kematian chondrocyte di persendian. Menurut Piermattei et al. (2006), glukosamin dan chondroitin sulfate merupakan chondroprotective agent, idealnya dapat meningkatkan sintesis makromolekul chondrocytic, meningkatkan sintesis hyaluron oleh synoviocytes, menghambat peradangan, dan mencegah pembentukan fibrin atau trombus di sinovial atau pembuluh darah subchondral.

 

Proteoglikan dan Glikosaminoglikan

Proteoglikan merupakan penyusun matriks persendian. Subunit dari proteoglikan disebut dengan glikosaminoglikan (GAG). Glikosaminoglikan tersebut diantaranya adalah chondroitin 6-sulfate, chondroitin 4-sulfate, dan keratosulfat. Makromolekul tersebut bersifat hidrofilik dan berikatan dengan kolagen, sehingga membentuk barrier untuk absorpsi substansi dari cairan sinovial. Kondisi tersebut menyebabkan hanya beberapa substansi dengan berat molekul rendah yang dapat menembus kartilago persendian normal. Kartilago persendian tersusun dari air (80%), kolagen (10%), dan proteoglikan (10%) (Piermattei et al. 2006). Menurut Knudson dan Knudson (2001), proteoglikan utama di kartilago merupakan sejumlah besar chondroitin sulfate proteoglikan aggrecan. Proteoglikan aggrecan mempunyai struktur  supramolecular dengan 50 monomer dan berikatan dengan filamen hyaluronan. Proteoglikan aggrecan tersebut berperan dalam menyediakan tekanan osmotik yang dibutuhkan untuk ketahanan kartilago. Menurut Kaneko et al. (2008), proteoglikan terdiri dari inti protein dengan perlekatan karbohidrat glikosaminoglikan yang berulang.

Glikosaminoglikan (GAG) adalah kombinasi dari protein dan gula. Glikosaminoglikan dapat ditemukan pada berbagai jaringan, diantaranya adalah plasma darah, persendian, dan membran mukosa (saluran pencernaan dan vesica urinaria). Glukosamin dan chondroitin membentuk glikosaminoglikan di persendian. Fungsi dari glikosaminoglikan diantaranya merupakan bahan dasar pembentuk kartilago serta meningkatkan sintesis proteoglikan, asam hyaluronat (lubrikasi persendian), dan kolagen. Bahan-bahan tersebut diperlukan untuk pembentukan struktur dan fungsi dari persendian (Marsden et al. 2004b). Glikosaminoglikan merupakan komponen penting dalam jaringan ikat, kartilago, dan tendo. Rantai glikosaminoglikan berhubungan secara kovalen dengan protein untuk membentuk proteoglikan. Beberapa contoh dari glikosaminoglikan diantaranya adalah hyaluronan yang merupakan komponen cairan sinovial, heparin, dan chondroitin. Menurut Kaneko et al. (2008), glikosaminoglikan yang juga disebut dengan mukopolisakarida merupakan molekul panjang dan berulang, serta merupakan bagian dari proteoglikan yang merupakan bahan dasar matriks ekstraseluler.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: