coretan seputar dunia veteriner

Signalement

Nama Pasien                          : Bambi

Jenis Hewan                           : Anjing

Ras/Breed                               : Mix

Warna Rambut dan Kulit        : Hitam

Jenis Kelamin                         : Betina

Bobot Badan                           : 7,6 kg

Tanggal Datang                      : 12 Oktober 2010

Anamnesis : Hewan lemas, tiba-tiba kejang-kejang,

serta napas tersengal-sengal. Hewan melahirkan

sekitar 1 bulan yang lalu

 

Status Present

Perawatan                               : Baik

Gizi                                          : Sedang

Pertumbuhan Badan               : Baik

Suhu Tubuh                            :40,2°C

 

Kulit dan Bulu

Aspek Bulu                              : Kusam

Kerontokan                              : Tidak ada

Kebotakan                               : Tidak ada

Turgor Kulit                             : Sedang

Permukaan Kulit                     : Rata, terdapat infestasi kutu

Bau Kulit                                  : Khas

 

Kepala dan Leher

Ekspresi Wajah                      : Lethargi

Pertulangan Kepala                : Tegas

Posisi Tegak Telinga              : Telinga jatuh kedianya

 

Palpasi

Palpebrae                                : Membuka pada kedua mata

Cilia                                         : Keluar sempurna pada kedua mata

Conjuctiva                               : Pucat pada kedua mata

Pupil                                        : Membesar (dilatasi) pada kedua mata

Hidung dan sinus                    : Tidak ada discharge

 

Mulut dan Rongga Mulut

Rusak/Luka Bibir                     : Tidak ada

Mukosa                                    : Pucat

 

Telinga

Posisi                                      : Jatuh pada kedua telinga

Bau                                          : Khas cerumen

Permukaan daun telinga         : Rata

Krepitasi                                  : Tidak ada

reflek Panggilan                      : Tidak ada

 

Thorak : Sistem Pernapasan

Tipe Pernapasan                    : costalis

Ritme                                      : Cepat

Intensitas                                 : Dangkal

 

Palpasi Thorak

Penekanan Rongga Thorak    : Tidak sakit

 

Palpasi Abdomen                    : Tidak ada rasa sakit

 

Anus

Sekitar Anus                            : Kotor

Refleks sphincter ani              : Ada

Kebersihan Daerah Perineal  : Kotor

 

Kelenjar mamae

Besar                                      : Tidak ada kelainan

Letak                                       : Tidak ada kelainan

Bentuk                                     : Tidak ada perubahan

Kesimetrisan                           : Simetris

Alat Gerak

Perototan Kaki depan             : Kejang

Perototan Kaki belakang         : kejang

Tremor                                                : Ada

 

Struktur Pertulangan

Kaki Kiri Depan                       : Tidak Ada Perubahan

Kaki Kiri Belakang                   : Tidak Ada perubahan

Kaki Kanan Depan                  : Tidak ada perubahan

Kaki Kanan Belakang              : Tidak ada perubahan

Konsistensi Pertulangan         : Tidak ada kelainan

Reaksi Saat Palpasi               : Tidak ada rasa sakit

 

Diagnosa : Hipokalsemia puerperalis (eclampsia)

Terapi : –    NS 400 cc IV (Calcium gluconas 9 cc dalam 1

botol NS)

–          Calcium gluconas 0,8 cc IV

–          Frontline Spray

 

Tabel 1 Observasi dan Terapi Harian

Tanggal Kondisi Harian Terapi
12/10/2010 Pasien datang ke RSHJ dalam kondisi lemas, kejang, dan napas cepat dan dangkal – NS 400 cc IV (Ca Gluconas 9 cc dalam 1 botol)

– Ca Gluconas 0,8 cc IV

– Frontline spray

 

13/10/2010 Pagi : Belum mau makan

Sore : Belum mau makan

Tidak kejang

Infus RD 400 cc + Ca Gluconas 5 cc IV
14/10/2010 Tidak kejang Infus RD 4 cc IV

 

 

PEMBAHASAN

 

Anjing bernama Bambi dibawa pemiliknya ke Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ) pada malam hari tanggal 12 Oktober 2010. Pemilik mengeluhkan Bambi dalam kondisi lemas, tiba-tiba kejang, serta napas tersengal-sengal. Selain itu, menurut cerita pemilik, Bambi dalam kondisi menyusui anaknya dan telah melahirkan sekitar satu bulan yang lalu.

Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa Bambi mempunyai bobot badan sebesar 7,6 kg dan suhu 40,2 °C. Menurut Kelly (1984), suhu tubuh normal anjing ras kecil adalah 38,6 – 39,2 °C dengan rata-rata 38,9 °C. Kondisi tubuh Bambi saar pemeriksaan dapat dikatakan sebagai demam. Menurut Tilley dan Smith (2000), demam merupakan suhu tubuh yang lebih tinggi dari suhu tubuh normal, hal ini disebabkan oleh perubahan thermoregulatory di hypothalamus.

Hasil pemeriksaan lain adalah adanya gejala klinis berupa aktivitas lethargi, kejang-kejang (konvulsi), tremor otot, dilatasi pupil, serta pernapasan cepat dan dangkal. Menurut Boden (2005), konvulsi merupakan kontraksi yang kuat pada otot di bawah kesadaran, biasanya bergantian dengan kondisi relaksasi pada otot. Kondisi ini menyebabkan hilangnya kesadaran. Berdasarkan pemeriksaan klinis serta berdasarkan anamnesis maka diagnosa yang diambil adalah hypocalcemia atau eclampsia. Menurut Boden (2005), eclampsia merupakan suatu penyakit yang terjadi selama kebuntingan akhir dan setelah partus. Eclampsia ditandai dengan adanya kehilangan kesadaran dan konvulsi. Kondisi ini terjadi disebabkan oleh kadar kalsium darah yang rendah. Sedangkan menurut Eldredge et al. (2007), eclampsia adalah kondisi kejang yang disebabkan oleh kadar kalsium serum yang rendah (hipokalsemia). Kondisi ini biasanya terjadi pada dua atau empat minggu setelah partus. Menurut anonim (2008), eclampsia atau hipokalsemia puerperal merupakan kondisi akut yang biasanya terjadi pada puncak laktasi (2 – 3 minggu setelah partus). Kejadian hipokalsmia puerperal ini sering terjadi pada anjing ras kecil dengan anak dalam jumlah banyak. Selain itu, keadaan hipokalsemia juga dapat terjadi selama kebuntingan dan akan menyebabkan distokia.

Gejala klinis dari hipokalsemia adalah terjadinya peningkatan neuromuscular excitability, sehingga menghasilkan kondisi tetany, seizure, muscle fasciculation, hyperthermia, kekakuan dalam bergerak, kelemahan, serta tremor. Gejala tetany biasanya terlokalisir pada kelompok otot tertentu, seprti otot wajah dengan manifestasi berupa menggosokkan wajah atau mencakar bagian wajah karena adanya kesakitan akibat kekejangan pada wajah. Selain itu, biasanya hewan terlihat gelisah dan lebih agresif. Gejala lain yang dapat terjadi adalah katarak yang disebabkan oleh keadaan hipokalsemia yang lama (biasanya disebabkan oleh hipoparatiroidisme primer). Kondisi katarak yang disebabkan oleh hipokalsemia biasanya terjadi pada area cortical subcapsular anterior dan posterior lensa. Gejala lain yang dapat terlihat pada kondisi hipokalsemia adalah panting atau hiperventilasi (Rubin dan Carr 2007). Menurut Eldredge et al. (2007), gejala klinis dari eclampsia adalah kegelisahan, pernapasan cepat, dan membran mukosa pucat. Selain itu, pada kondisi berat dapat terjadi kondisi hipersalivasi dan temperatur rectal meningkat menjadi 41 °C. Menurut anonim (2008), walaupun hipoklasemia biasanya terjadi post partus, gejala klinis dapat terlihat pada saat pre partus atau pada saat kebuntingan. Hipokalsemia dengan kadar kalsium serum > 7 mg/dL tetapi di bawah kadar normal dapat menyebabkan gangguan kontraksi myometrium. Gejala panting yang berat dapat menyebabkan kondisi alkalosis. Konsentrasi kalsium terionisasi dii dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi protein, status asam-basa tubuh (alkalosis dapat meningkatkan pengikatan protein terhadap kalsium serum dan kondisi ini dapat memperburuk keadaan hipokalsemia), serta ketikseimbangan elektrolit tubuh.

Menurut Rubin dan Carr (2007), hipokalsemia berat cukup untuk menimbulkan gejala klinis yang biasanya terjadi oleh puerperal tetany, hipoparatirodisme iatrogenik, hipoparatiroidisme primer, atau sebab pemberian fosfat untuk enema. Sedangkan penyebab dari kondisi hipokalsemia ringan meliputi gagal ginjal, pancreatitis, ethylene glycol intoxication, hipoalbuminemia, transfusi darah dengan sitrat yang berlebih, intestinal malabsorpsion, serta alkalosis.

Hipokalsemia puerperal disebabkan oleh adanya kehilangan kalsium ke dalam air susu dan dari ketidakcukupan asupan kalsium dalam pakan. Ketidakseimbangan metabolisme kalsium terjadi karena mobilisasi kalsium dari tulang mengalami ketidakcukupan untuk memelihara keluarnya kalsium dari kelenjar mammae. Kejadian puerperal hipokalsemia dapat terjadi pada semua ras anjing, dengan beberapa jumlah anak, dan selama laktasi, serta biasanya terjadi selama laktasi awal (Anonim 2008).

Diagnosa dapat ditetapkan berdasarkan signalement, anamnesis, gejala klinis, dan respons terhadap terapi yang diberikan. Pemberian pretreatmen serum kalsium dengan konsentrasi < 7 mg/dL akan memperkuat diagnosa. Pemeriksaan profil kimia serum berguna untuk mengrtahui adanya keadaan hipoglisemia yang terjadi bersamaan dan ketidakseimbangan elektrolit lainnya. Diagnosis banding dari kondisi puerperal hipokalsemia atau eclampsia adalah keondisi yang menyebabkan seizure seperti hipoglisemia, keracunan, gangguan saraf primer seperti epilepsi idiopathik atau meningoencephalitis. Sedangkan kondisi iritabilitas dan hipertermia dapat juga disebabkan oleh metritis dan mastitis (Anonim 2008).

Terapi yang diberikan di Rumah Sakit Hewan Jakarta untuk penanganan hipokalsemia puerperal atau eclampsia pada anjing Bambi adalah pemberian terapi berupa calcium gluconas, dan kondisi terlihat membaik setelah pemberian selama dua hari. Terapi yang diberikan untuk penanganan hipokalsemia adalah pemberian calcium gluconate 10% (0,5 – 1,5 ml/kg BB di atas 10 – 30 menit secara IV perlahan-lahan). Pemberian terapi ini akan menyebabkan perbaikan kondisi dalam 15 menit (terjadi relaksasi otot). Selama pemberian terapi kalsium, denyut jantung harus dimonitor terhadap bradycardia atau arrhytmia melalui auskultasi atau EKG. Apabila kondisi hewan sudah stabil, maka dosis kalsium gluconate yang dibutuhkan untuk kontrol awal terhadap tetani harus diencerkan dengan normal saline (0,9%) volume yang sama dan diberikan secara SC (3 kali sehari), hal ini bertujuan untuk mengontrol gejala klinis. Selain itu, kalsium sebanyak 5 – 15 mg/kg/jam dapat diteruskan secara IV. Terapi ini dapat meningkatkan kadar serum kalsium. Secara ideal, kadar serum kalsium harus dipelihara di atas 8 mg/dL, apabila kadar serum di atas 9 mg/dL, maka kadar serum kalsium harus diturunkan. Tujuan dari terapi jangka panjang adalah untuk memelihara kadar serum kalsium pada kadar 8 – 9,5 mg/dL (Anonim 2008).  Calcium gluconate merupakan senyawa yang mudah larut dalam air. Calcium gluconate untuk injeksi mempunyai pH sebesar 6 – 8,2. Kontraindikasi dari terapi calcium gluconate adalah pasien dengan ventricular fibrilation atau pasien dengan hiperkalsemia (Plumb 1999).

Selain itu, menurut anonim (2008), terapi lain yang diberikan untuk penanganan hipokalsemia pada anjing adalah pemberian suplementasi vitamin D untuk meningkatkan absorpsi kalsium di usus. Dosis dari 1,25-dihydroxyvitamin D3 (calcitrol) adalah sebesar 0,03 – 0,06 µg/kg BB/hari. Komplikasi yang sering terjadi pada terapi dengan pemberian suplementasi vitamin D adalah hiperkalsemia iatrogenic.

Terapi darurat untuk hipokalsemia diindikasikan pada pasien ketika mengalami seizure atau tetani. Terapi yang diberikan dapat berupa calcium gluconate (10%, dengan dosis 1 – 1,5 ml/kg BB di atas 10 – 20 menit) secara IV. Terapi calcium secara IV harus diikuti dengan infus calcium gluconate secara konstan (6 – 10 ml/kg BB di atas 24 jam), penambahan bolus calcium gluconate 10% (1,5 – 2 ml/kg BB setiap 6 – 8 jam), atau pemberian secara SC calcium gluconate 10% (1,5 ml) (Rubin dan Carr 2007). Menurut Tilley dan Smith (2000), terapi yang diberikan dapat calcium gluconate 10% dan diazepam dengan dosis 5 mg IV untuk penanganan seizure

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dapat disimpulkan bahwa pasien anjing mix yang bernama Bambi mengalami hipokalsemia puerperal atau eclampsia. Saran yang dapat diberikan dalam penanganan hipokalsemia puerperal yaitu dilakukan peneguhan diagnosa dengan pengukuran kadar serum kalsium sehingga dapat diketahui kadar kalsium yang dibutuhkan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Puerperal Hypocalcemia in Small Animal. http://www. merckvetmanual.com/mvm/index.jsp@cfile=htm_2Fbc_2F80304.htm [10 Agustus 2010].

 

Boden E. 2005. Black’s Veterinary Dictionary 21st Ed. A&C Black. London.

 

Eldredge DM, Carlson LD, Carlson DG, Giffin JM. 2007. Dog Owner’s Home Veterinary Handbook 4 th Ed. Wiley Publishing, Inc. New Jersey.

 

Kelly WR. 1984. Veterinary Clinical Diagnosis 3rd Ed. Bailliere Tindall. London.

 

Plumb DC. 1999. Veterinary Drug Handbook 3rd Ed. Phamma Vet Publishing. Minnesota.

 

Rubin SI, Carr AP. 2007. Canine Internal Medicine Secrets. Mosby Elsevier. USA.

 

Tilley LP, Smith FWK. 2000. The 5 Minute Veterinary Consult Ver. 2. Lippincott Williams & Wilkins. USA.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: