coretan seputar dunia veteriner

Nilai Burung dalam Perekonomian di Jawa (MacKinnon 1990)

1. Hama pertanian
jenis-jenis bondol dianggap sebagai sebagai hama padi, mereka dianggap oleh masyarakat petani sebagai penyebab kerusakan tanaman pertanian yang parah. Selin jenis bondol burung yang dianggap hama pertanian adalah mandar, betet, punai, gagak dan kutilang (dianggap masyarakat tani sebagai hama pemakan buah) serta burung laut, pecuk, elang ikan kepala abu, cangak, raja udang dianggap hama karena memangsa ikan di perairan maupun di tambak.

2. Jenis Yang Menguntungkan
Beberapa jenis burung yang dianggap hama pertanian juga dimasukkan dalam kategori jenis yang menguntungkan bagi “perekonomian” di Jawa adalah cangak, mandar, srigunting, raja udang, betet, sikatan, kapinis, layang-layang, burung buah, dll. Dasar pemikiran dari poin 2 ini adalah komposisi fauna burung yang kaya akan dapat memelihara keseimbangan ekosistem yang sehat sehingga jumlah serangga hama yang ada tidak berlipat ganda. Namun, sekarang sepertinya hal ini sudah tidak berlaku lagi karena banyak petani menggunakan insektisida sehingga secara bertahap akan menyebabkan penyimpangan keseimbangan siklus alami hama-pemangsa dan lambat laun akan terjadi ketergantungan terhadap insektisida.
Secara tidak langsung populasi burung di alam memegang peranan utama untuk mempertahankan keseimbangan ekologi di dalam hutan alam dimana burung berperan sebagai penyebar biji, pemangsa serangga, membantu penyerbukan dan mempercepat pelapukan kayu-kayu busuk. Hal ini akan berdampak pada kesehatan hutan yang secara tidak langsung juga mempengaruhi kesehatan manusia dan hewan lainnya.

3. Burung sebagai bahan makanan
Beberapa jenis burung berperan penting dalam “perekonomian” di Jawa sebagai bahan makanan adalah mandar, ayam hutan, puyuh dan punai serta sarang walet. Beberapa masyarakat “pemangsa” burung liar terdapat di sepanjang pantai utara jawa dekat daerah Cirebon. Dalam hal ini biasanya penduduk desa tersebut memasang jaring yang panjang untuk menjerat burung-burung migran seperti burung mandar yang kemudian dijual sebagai bahan makanan (daging) di pasar-pasar setempat.

4. Burung Piaraan
Di Jawa, beberapa juta burung liar telah dipelihara di dalam sangkar sebagai hewan peliharaan. Beberapa burung yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat pulau Jawa sebagai burung piaraan adalah perkutut, beo, kutilang, kucica hutan dan jalak. Menurut catatan perijinan, lebih dari 30.000 burung liar telah ditangkap di Jawa pada tahun 1978 dan diperkirakan lebih banyak lagi burung liar yang telah dijual dan tidak dilaporkan. Beberapa cara yang digunakan oleh masyarakat dalam menangkap burung liar di alam adalah dengan menggunakan penjerat seperti jala kabut, pulut (getah pohon nangka), dan mengambil anak-anak burung dari sarangnya.
Sebuah survey yang dilakukan mengenai perdagangan burung di Bandung pada tahun 1981 tercatat lebih dari 30 jenis burung yang tersedia, beberapa diantaranya berasal dari pulau-pulau lain di Indonesia termasuk jenis endemik yang secara resmi dilindungi. Perdagangan burung tersebut tidak hanya terjadi di pasar-pasar lokal saja tetapi sudah menjangkau perdagangan internasional. Pada tahun 1980 terdapat lebih dari 340.000 burung diekspor secara ilegal dari Indonesia. Beberapa jenis burung ekspor yang laku dalam perdagangan internasional adalah bondol, pipit benggala, gelatik, perkutut, beo dan serindit. Perdagangan burung liar ini merupakan salah satu penyebab utama dalam penurunan populasi burung liar di alam serta dapat menyebabkan terjadinya kepunahan spesies burung tertentu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: