coretan seputar dunia veteriner

Sebelum lebaran tepatnya tanggal 21 September kemarin, saya melakukan kebiasaan yang yang umum dilakukan orang Indonesia tiap tahun yaitu pulang kampung atau mudik. Entah yang saya lakukan termasuk mudik atau bukan, tapi saya hanya menyebutnya sebagai pulang ke rumah karena ada liburan yang panjang. Rembang adalah kota tujuan saya pulang yang letaknya di sebelah timur Jawa Tengah dan berbatasan langsung dengan Jawa Timur. Deskripsi singkat mengenai kota ini (kecamatan kota Rembang) adalah letaknya di pinggir laut jawa sehingga kota ini memiliki garis pantai yang lumayan panjang, khusus kecamatan kota rembang semuanya berupa dataran rendah dengan temperatur yang bisa dikatakan sangat tinggi, serta sebagian besar vegetasi didominasi oleh tumbuhan yang tahan hidup di daerah kering seperti jati dan randu, serta mangrove di pinggiran pantai. Liburan kali ini rasanya tidak lengkap jika tidak bertualang “memburu” burung-burung liar, apalagi sepertinya belum ada yang mengidentifikasi keanekaragaman burung di kawasan kota Rembang ini.
Sebelumnya bulan Februari lalu, saya pernah melakukan pengamatan di kota Rembang (tepatnya hanya di kecamatan kota rembang) tapi tanpa persiapan maksimal hanya berbekal sebuah binokuler yang lensanya sudah buram (pinjaman dari teman). Pengamatan saya lakukan bersama seorang teman yang sebelumnya belum mengenal birdwatching sama sekali. Pengamatan tersebut saya lakukan di sebelah timur kota Rembang tepatnya di desa Tireman. Waktu itu kawasan tersebut berupa daerah sawah, tambak, kebun jati, kebun mangga, sedikit mangrove dan ada perumahan yang sedang dalam taraf pembangunan. Waktu itu burung yang berhasil saya temukan adalah raja udang erasia yang nongkrong di batang-batang kayu pinggir tambak yang siap memburu ikan kecil, cekakak cina dan cekakak jawa yang nongkrong di batang pohon yang sudah kering dan kabel listrik, cekakak sungai yang suaranya meramaikan sepinya sore itu, bondol jawa, bondol peking, kirik-kirik laut, burung cabak (kurang jelas cabak jenis yang mana, tapi dari suaranya sepertinya cabak kota), berbagai walet, kuntul (lupa kuntul jenis apa), burung pantai (sepertinya jenis trinil), cucak kutilang, prenjak jawa, cabai jawa, tekukur, gemak, serta yang membuat saya kagum adalah keberadaan gelatik jawa yang bisa dibilang hadir dalam jumlah besar waktu pengamatan.
Namun, kemarin tepatnya tanggal 28 September sewaktu pengamatan kedua kalinya di tempat itu, keadaannya sudah banyak berubah, kini perumahan di kawasan itu sudah berkembang pesat sehingga daerah lapang semakin menipis. Waktu pengamatan pagi, saya hanya menemukan beberapa ekor burung trinil (kurang jelas jenis yang mana), beberapa ekor cekakak sungai yang terbang dan bertengger, cekakak cina dan cekakak jawa, bondol jawa, bondol peking, kuntul kecil dan cabai jawa. Waktu itu saya tidak menjumpai burung-burung sebanyak pengamatan seperti Februari lalu. ketika itu perasaan saya bercampur aduk antara rasa kecewa karena tidak berhasil menjumpai burung-burung liar yang sebenarnya masih beranekaragam, jengkel karena pembangunan perumahan yang telah menggusur lahan terbuka untuk burung liar dan hidupan liar lainnya, dan rasa penasaran.
Kondisi ini berulang pada pengamatan ketiga, hanya beberapa burung saja yang saya jumpai. Menurut saya, jumlah burung yang menipis ini disebabkan oleh perubahan habitat sehingga kemungkinan para burung tersebut berpindah ke tempat lain yang kondisinya masih layak serta kemungkinan adanya perburuan terhadap burung-burung liar di kawasan tersebut karena beberapa waktu yang lalu saya pernah menjumpai beberapa orang yang membawa senapan angin ada di tempat ini.
Pada hari lebaran tepatnya tanggal 1 Oktober 2008, saya diajak keluarga untuk “nyekar” atau ziarah kubur ke tempat pemakaman umum yang letaknya di desa Kabongan Kidul. Ketika itu pukul 10.00 kami sudah sampai di TPU tersebut karena letaknya yang tidak begitu jauh dari desa saya. Saya begitu kaget ketika pertama memasuki TPU tersebut, selain ramainya suara orang-orang yang melakukan kegiatan “nyekar” juga ada beragam suara kicauan burung yang sahut-menyahut. Ketika tradisi “nyekar” sedang berlangsung, tiba-tiba seekor burung kipasan belang (Rhipidura javanica) hinggap di batang pohon yang hampir meranggas. Seketika itu setelah mendoakan yang ada di dalam kubur, saya mencoba berjalan mendekati pohon ang dihinggapi si kipasan belang, ternyata tak jauh dari situ beberapa ekor kipasan belang yang lain hinggap di tanah, selain itu di pohon yang dihinggapi kipasan belang ternyata juga dihinggapi cabai jawa sehingga suasana pohon yang meranggas itu seketika menjadi berwarna merah dan ramai. Burung yang lain yang saya temui adalah pentet kelabu, layang-layang (kurang jelas jenisnya), walet (mayoritas walet linchi) cekakak sungai, kutilang dan banyak gerombolan bondol. Namun, selain melihat burung liar dalam jumlah yang bisa dibilang lumayan, saya juga mendengar suara cinenen jawa, prenjak (kemungkinan prenjak jawa), dan suara burung-burung semak. Meskipun suasana terik, panas dan gerah tapi pengalaman melihat burung liar di area kuburan adalah pengalaman yang menakjubkan. Karena saya tidak membawa binokuler maka burung-burung itulah yang mampu saya kenali.
Karena penasaran maka saya semapatkan untuk bertanya kepada teman saya yang kebetulan rumahnya dekat dengan TPU tersebut. Menurut teman saya, di TPU itu selain burung yang sudah saya sebutkan di atas juga masih dapat ditemui burung hantu, burung-burung ocehan (menurut teman saya yang kurang tahu menahu jenis burung), dan burung wiwik. Dan menurutnya meskipun jumlah dan keanekaragaman burungnya banyak tapi burung-burung tersebut sering ditangkapi oleh penduduk setempat dan orang-orang luar desa itu, cara penangkapan yang biasa digunakan adalah dengan mengguanakan pulut (semacam getah nangka), selain itu juga jaring yang digunakan oleh para pedagang burung dan serta senapan angin. Masyarakat lokal yang sering menangkapi burung sebenarnya bukan ancaman serius terhadap kelestarian jenis burung karena mereka masih menggunakan cara-cara tradisional dan mempunyai batasan sendiri dalam memanfaatkan burung liar maupun hidupan liar tetapi apabila hal ini dibiarkan terus menerus maka ancaman terhadap kelestarian burung liar juga akan terjadi. Yang paling mengancam kelestarian burung liar di kawasan ini sebagian besar adalah dari para pedagang burung yang menangkap burung dalam skala besar dan para pemburu burung.
Menurut saya, area Tempat Pemakaman Umum merupakan daerah terakhir bagi burung-burung liar yang hidup di suatu perkotaan karena area seperti ini merupakan area yang kemungkinan besar tidak akan mengalami perubahan habitat dalam jangka pendek seperti pembangunan perumahan. Dan juga area seperti ini sangat cocok bagi habitat burung liar, karena TPU semacam ini mempunyai beberapa vegetasi yang cocok bagi habitat burung. Ancaman terbesar kelangsungan hidup burung liar di daerah ini bukanlah perubahan habitat tetapi ancaman dari pemburu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: