coretan seputar dunia veteriner

Laporan ujian nekropsi unggas

Hari, tanggal nekropsi               : Senin, 29 Maret 2010

No. protokol U                        : U66

Dosen penguji                           : Drh. Hernomoadi Huminto, MVS

 

Signalemen

Jenis unggas                              : ayam layer

Bangsa                                     :

Jenis kelamin                            : betina

Umur                                        : 33 – 35 minggu

Tanggal mati                             : 29 Maret 2010

Tanggal nekropsi                      : 29 Maret 2010

Nama peternak             : Pak Amin

Alamat peternak                       : Parung

 

Anamnese

Akan dilakukan isolasi bakteri pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan ayam.

 

Laporan Pemeriksaan Hasil Nekropsi

Organ Epikrise Diagnosa PA
Keadaan Umum Luar

  • Kulit dan bulu
  • Mata
 

Tidak ada kelainan

 

Tidak ada kelainan

 
Subkutis

  • Perlemakan
  • Otot
 

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

 
Rongga Tubuh

  • Situs Viserum

 

 

Situs viserum tidak ada perubahan posisi.

Terdapat eksudat berwarna kuning (1/3)

 

 

 

peritonitis

Traktus Respiratorius

  • Kantung hawa

 

  • Sinus hidung

 

  • Khoane

 

  • Laring

 

  • Trakhea

 

  • Paru-paru

 

 

 

Kantung hawa keruh dan terdapat eksudat fibrinous (3/3)

Sinus hidung berwarna merah (3/3)

 

Khoane berwarna merah (3/3)

 

Laring terdapat eksudat serous (1/3)

 

Tidak ada kelainan

 

Tidak ada kelainan, paru-paru terlihat berwarna merah muda dan mengapung ketika dilakukan uji apung

 

Air sacculitis

 

Sinusitis

 

Rhinitis

 

Laringitis

 

 

 

Traktus digestivus

  • Rongga mulut
  • Esofagus
  • Tembolok
  • Proventrikulus
  • Gizzard
  • Usus halus

 

 

 

 

 

  • Usus besar
  • Sekum
  • Seka tonsil

 

  • Hati

 

  • Pankreas
.

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ditemukan erosi di gizzard (1/3)

Usus terlihat sedikit menggembung, terjadi hiperemi dan usus berisi makanan (3/3). Di usus halus ditemukan hiperemi (1/3), hemorhagi (2/3), serta ditemukan eksudat katarrhalis (2/3)

Tidak ada kelainan pada usus besar

Tidak ada kelainan pada sekum

Pada seka tonsil ditemukan hemorrhagi (3/3)

 

Hati berwarna kekuningan (2/3)

 

Tidak ada kelainan

 

 

 

 

 

Ventrikulitis

Enteritis katarrhalis

 

 

 

 

Typhlitis

 

Degenerasi lemak

Traktus Sirkulatorius

  • Jantung
  • Pembuluh darah
 

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

 
Sistem Limforetikular

  • Limpa
 

Tidak ada kelainan

 

 

 

Traktus Urogenitalia

  • Ginjal
  • Ureter
  • Ovarium
  • Oviduct
 

Terjadi pembengkakan pada ginjal (2/3)

Tidak ada kelainan

Ovarium pecah di ruang abdomen (1/3)

Terdapat eksudat katarrhal (1/3) dan eksudat purulenta (2/3)

 

Nephrosis

 

Oophoritis

Salphyngitis

 

Sistem Syaraf Pusat dan Perifer

  • Otak
  • Syaraf perifer
 

 

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

 
Sistem Lokomosi

  • Otot
  • Tulang
  • Persendian
 

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

 

 

Diagnosa Kausalis                    : Infectious Bronchitis

Diagnosa Banding                     : Infectious Bursal Disease (gumboro), Newcastle  Disease (ND), Egg drop syndrome, defisiensi mineral (Calcium dan Phosphor), defisiensi vitamin D

 

 

PEMBAHASAN

Pengamatan hasil nekropsi pada tiga ayam layer yang berumur 33 – 35 minggu diperoleh hasil bahwa lesio yang banyak ditemukan adalah pada saluran pernapasan, saluran urogenitalia, dan saluran pencernaan. Lesio pada saluran pernapasan berupa kemerahan pada sinus hidung dan khoane yang pada keadaan normal berwarna pucat. Adanya warna merah pada sinus hidung dan khoane menandakan bahwa terjadi sinusitis dan rhinitis. Kelainan pada saluran respirasi yang lainnya adalah adanya eksudat serous pada laring yang menandakan terjadinya laringitis. Selain itu, pada kantung hawa (air sac) juga mengalami kelainan yaitu berupa kekeruhan dan terdapat eksudat fibrin, hal ini menandakan bahwa terjad air sacculitis. Kelainan patologi anatomi pada saluran urogenitalia antara lain dapat ditemukan pada ginjal, ovarium, dan oviduc/saluran telur. Kelainan pada ginjal berupa pembengkakan pada ginjal (2/3), hal ini menandakan terjadinya nephrosis. Kelainan pada ovarium berupa pecahnya telur di dalam rongga abdomen, hal ini menandakan terjadinya oophoritis. Kelainan pada oviduct/saluran telur adalah berupa terdapatnya eksudat katarrhal (1/3) dan eksudat purulenta (2/3), hal ini menandakan terjadinya salphyngitis. Selain itu, kelainan lain yang dapat ditemukan adalah terjadinya peritonitis (1/3), pada kelainan ini dapat terlihat rongga abdomen dpenuhi oleh eksudat berwarna kuning dan peritoneum terlihat keruh (terdapat eksudat fibrinous). Eksudat tersebut kemungkinan dapat berasal dari pecahnya telur di rongga abdomen sehingga menimbulkan peritonitis.

Kelainan/lesio utama yang dapat menimbulkan penurunan produksi maupun penurunan kualitas telur ayam layer adalah kelainan pada saluran pencernaan dan saluran urogenitalia. Kelainan pada saluran pencernaan terutama pada usus dapat menyebabkan malabsorpsi sehingga dapat terjadi malnutrisi yang akan berdampak pada penurunan produksi dan kualitas telur. Kelainan pada usus dapat berupa rusaknya vili usus karena peradangan yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme (bakteri dan virus). Hasil nekropsi ditemukan terjadinya enteritis katarrhalis yang kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam penyerapan nutrisi di usus. Menurut Runnells et al. (1965), enteritis merupakan peradangan pada usus dan enteritis klasifikasikan berdasarkan ciri eksudat yang dihasilkan yang merupakan respon usus terhadap adanya iritasi atau infeksi. Jenis dari enteritis berdasarkan ciri eksudat adalah enteritis katarrhalis, fibrinous, hemorrhagika, suppurativa, dan nekrotik. Enteritis katarrhalis merupakan jenis peradangan pada usus yang bersifat ringan dan eksudat yang dihasilkan berupa mucus. Beberapa penyakit yang dapat menyebabakan terjadinya enteritis adalah salmonellosis, ND dan Avian Influenza (AI). Selain itu helminthiasis juga dapat menyebabkan enteritis. Namun, pada sampel ayan yang dinekropsi, enteritis katarrhalis yang dicirikan oleh adanya eksudat katarrhal sampai fibrinous dan ptechie pada mukosa usus kemungkinan disebabkan oleh infeksi virus ataupun infeksi sekunder oleh bakteri, karena berdasarkan sejarah, ayam tersebut pernah mendapatkan pengobatan antibiotik berupa lincomisin-streptomisin dan kemudian kloramfenikol. Penggantian antibiotik dalam jangka pendek dapat menyebabkan flora normal usus menjadi terganggu sehingga infeksi oleh mikroorganisme lain dapat terjadi (mikroorganisme patogen). Hal ini akan menyebabkan gangguan/kerusakan pada vili-vili usus sehingga dapat terjadi malabsorbsi. Mikroorganisme patogen yang dapat menyebakan terjadinya enteritis adalah salmonella (Salmonella enteritidis) dan Escherichia coli. Pada spesies lain yaitu burung merpati, enteritis katarrhalis disebabkan oleh adenovirus tipe 1. Secara histologi dapat terlihat adanya atrofi vili usus dan badan inklusi intranuklear pada epitel usus. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi sekunder oleh Escherichia coli yang akan memperparah dan memperlama penyakit. Akhir dari kondisi seperti ini adalah terjadinya kematian karena terjadi septicaemia E. coli.

Selain kelainan pada usus, kelainan pada traktus digestivus lain yang dapat menyebabkan penurunan produksi dan kualitas telur adalah kelainan pada pankreas, misalnya terjadi peradangan pada pankreas. Kelainan ini dapat menyebabkan menurunnya ekskresi enzim-enzim pencernaan sehingga akan terjadi maldigesti yang akhirnya akan berdampak pada kejadian malnutrisi. Sampel ayam yang diperiksa melalui nekropsi tidak menunjukkan terjadi kelainan pada pankreas.

Gangguan produksi berupa penurunan produksi dan kualitas telur (kerabang yang rapuh) juga dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan kalsium dan fosfor, serta defisiensi vitamin D. Kalsium pada unggas dan hewan lain dibutuhkan untuk terjadinya ossifikasi tulang, kalsifikasi kartilago, pengaturan tonus otot skelet dan jantung, koagulasi darah, menjaga tekanan osmotik dan pH, serta membantu membentuk kerabang telur pada unggas. Metabolisme kalsium dan fosfor erat kaitannya dengan vitamin D. Ayam layer sangat membutuhkan kalsium dalam jumlah yang mencukupi, apabila kebutuhan kalsium selama masa produksi tidak terpenuhi maka tulang pada ayam layer akan mengalami deplesi dan osteoporosis, serta penurunan kualitas kerabang telur. Menurut Runnells et al. (1965), cadangan kalsium disimpan di dalam tulang (jaringan osteoid), dan tersimpan bersama dengan fosfor an mineral lain. Ayam layer yang mengalami defisiensi vitamin D (terutama vitamin D3) akan menunjukkan gejala klinis berupa penurunan produksi telur dalam 2 – 3 minggu, serta terjadi gangguan pada kualitas kerabang telur. Menurut Runnells et al. (1965), fungsi dari vitamin D adalah meningkatkan jumlah/kadar kalsium dan fosfor di dalam tubuh, mengontrol konsentrasi kalsium dan fosfor di dalam darah, dan membantu deposisi kalsium dalam tulang. Defisiensi kalsium, fosfor, dan vitamin D3 dapat menyebabkan terjadinya kematian mendadak atau paralisis pada ayam petelur/layer ketika masa perkerabangan telur. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan kalsium yang tinggi untuk membentuk kerabang telur. Kondisi yang dapat terlihat ketika dilakukan pemeriksaan postmortem adalah osteoporosis, telur (ova) akan mengalami regresi, dengan tiak ada telur di alam oviduct, femur menjadi rapuh, serta sumsum tulang sering tidak ada ketika terjadi osteoporosis. Osteoporosis merupakan penyebab kematian terbesar pada ayam layer pada masa produksi tinggi. Pemeriksaan sampel telur ditemukan terjadinya penurunan kualitas kerabang telur (kerabang telur bersifat rapuh), tetapi pemeriksaan sampel ayam melalui nekropsi tidak ditemukan adanya osteoporosis, sehingga kemungkinan ayam layer tersebut tidak mengalami kekurangan mineral kalsium, fosfor, dan vitamin D.

Kelainan dan gangguan pada saluran urogenitalia merupakan salah satu penyebab penurunan produksi dan penurunan kualitas telur ayam. Lesio pada traktus urogenitalia yang terdiiri dari ginjal, ureter, ovarium, dan oviduct dapat disebabkan oleh beberapa kausa, diantaranya adalah infeksi bakteri atau infeksi virus. Bakteri yang menyebabkan lesio pada saluran urogenitalia diantaranya adalah Mycoplasma gallisepticum, Escherichia coli, Salmonella spp, dan Pasteurella multocida. Bakteri tersebut dapat menyebabkan gangguan pada produksi telur. Seangkan virus yang mempunyai tropisme di saluran urogenitalia adalah golongan coronavirus (infectious bronchitis virus), adenovirus (egg drop syndrome virus), birnavirus (infectious bursal disease virus), paramyxovirus (ND virus).

Menurut Thomas et al. (2007), waktu antara infeksi dengan penampakan gejala klinis biasanya terjadi pada dua sampai enam hari, tetapi dapat lebih lama, yaitu di atas 15 sampai 21 hari. Virus ND biasanya menyebabkan lesio pada satu atau lebih organ atau sistem tubuh, diantaranya adalah sistem saraf pusat, ginjal, saluran pencernaan, dan sistem respirasi. Strain virus ND highly pathogenic pada umumnya menyebabkan hemorrhagi dan nekrosis pada saluran pencernaan. Sedangkan strain yang kurang virulen dapat menyebabkan gangguan pada saluran respirasi dan sistem saraf. Lesio yang terjadi pada umumnya berupa hemorrhagi dan nekrosis pada mukosa trakhea dan bronchi, serta sering berkaitan dengan pneumonia dan infeksi sekunder oleh bakteri. Selain itu, lesio lain yang ditimbulkan adalah conjunctivitis dan rhinitis.

Egg drop syndrome virus merupakan virus kelompok adenovirus yang dapat menimbulkan lesio berupa produksi kerabang telur yang lunak. EDS menyerang ayam layer yang berumur 26 – 35 minggu. Virus mengalami replikasi di jaringan limfoid dan kemudian terjadi replikasi dalam jumlah besar dalam waktu 8 hari di oviduct, khususnya di bagian pembentuk kerabang. Eksudat yang dihasilkan oleh oviduct karena infeksi virus ini mengandung virus dalam jumlah yang banyak, sehingga dapat menjadi sumber kontaminasi ketika telur dikeluarkan. Kondisi ini menyebabkan virus EDS dapat menyebar secara horizontal dan vertikal (anak ayam yang menetas dapat mempunyai antibodi terhadap EDS). Kerabang telur yang lembek merupakan salah satu tanda utama dari infeksi EDS. Walaupun kerabang telur bersifat lembek, pada putih telur tidak mengalami perubahan yang artinya masih dapat dibedakan antara kental dan encer. Perubahan patologi anatomi yang dapat ditemukan apabila ayam terinfeksi oleh EDS adalah ovarium inaktif, oviduct mengalami atrofi, kadang-kadang ditemukan edema pada oviduct, splenomegali, serta telur (ova) yang membubur di ruang abdomen.

Infectious bursal disease (gumboro) merupakan salah satu virus yang juga menyerang saluran urogenitalian dan IBD disebabkan oleh birnavirus yang dapat diisolasi dari bursa fabricius dan organ-organ yang lainnya. Infectious bursal disease merupakan penyakit pada ayam yang bersifat contagious dan hasil infeksi tergantung pada umur dan breed ayam, serta virulensi virus. Infeksi dari IBD dapat berupa subklinis atau klinis. Infeksi sebelum tiga minggu pada umumnya bersifat subklinis. Ayam menjadi lebih peka ketika berumur 3 – 6 minggu. Infeksi subklinis dapat menyebabkan imunosupresi dalam waktu yang lama karena kerusakan limfosit yang belum dewasa di bursa fabricius, thymus, dan limpa. Selain itu, sel B (kekebalan humoral) juga terkena, serta sel T (kekebalan seluler) juga terserang tetapi dalam virulensi yang ringan. Ayam yang mengalami imunosupresi tidak dapat merespon dengan baik terhaap vaksinasi dan akan menjadi predisposisi terhadap infeksi virus-virus lain yang nonpathogenik dan bakteri. Sedangkan IBD bentuk klinis mempunyai onset yang tiba-tiba setelah masa inkubasi selama 3 – 4 hari. Gambaran patologi anatomi yang dapat terlihat ketika ayam terinfeksi virus IBD adalah pembengkakan pada ginjal dan terdapat endapan urat pada tubuli, perdarahan di otot dada dan otot paha, dehidrasi sehingga otot terlihat lebih gelap dan kering, isi usus bersifat mukoid dan anus banyak kotoran yang melekat, tulang menjadi lunak yang diakibatkan oleh ekskresi kalsium yang berlebihan dan pembengkakan pada limpa, serta pembengkakan pada bursa, tejadi edema bursa, hemorrhagi dan berisis eksudat perkejuan pada bursa fabricius.

Infectious bronchitis juga merupakan penyakit unggas yang sering menginfeksi saluran urogenitalia. Infectious bronchitis merupakan penyakit yang bersifat akut, menyebar dengan cepat, serta merupakan penyakit ayam yang dicirikan oleh gejala-gejala pada saluran respirasi, penurunan produksi telur, dan penurunan kualitas telur. Beberapa strain dari infectious bronchitis adalah bersifat nefropathogenik. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit utama pada ayam petelur yang bersifat ekonomis. Virus IB dapat dikeluarkan/diekskresikan dari ayam yang terinfeksi melalui discharge respirasi dan feses. Virus yang bersifat sangat contagious dapat disebarkan melalui droplet-droplet airborne, ingesti dari air dan pakan yang terkontaminasi, serta peralatan kandang. Infectious bronchitis mempunyai masa inkubasi 18 – 48 hari, dan dapat menyebar ke unggas lain secara cepat, serta morbiditas dari penyakit ini sebesar 100%. Keparahan dari infectious bronchitis dipengaruhi oleh umur ayam dan status imun pada flok, serta virulensi dari virus. Ayam petelur yang terinfeksi oleh infectious bronchitis akan menampakkan gejala klinis berupa penurunan produksi telur sebanyak 5 – 50% dan terjadi penurunan kualitas telur, yaitu kerabang telur menjadi tipis, rapuh, mudah pecah, dan putih telur encer. Lesio patologi anatomi yan dapat terlihat adalah terdapat eksudat mucoid di trachea dan bronchi, dan pada umumnya tanpa disertai dengan hemorrhagi. Selain itu, gejala di saluran respirasi adalah terdapat masa kaseosa di trakhea unggas muda, air sac mengalami penebalan dan keruh. Infeksi sekunder yang sering mengikuti infeksi IB adalah bakteri colliform yang dapat menghasilkan eksudat kaseosa, air sacculitis, perihepatitis, pericarditis. Sedangkan IB dengan strain nefropathogenik dapat menyebabkan pembengkakan pada ginjal, ginjal pucat, serta tubuli ginjal dan ureter berisi urat. Mekanisme pebentukan asam urat yang mengendap di ginjal dan ureter adalah diawali dari virus IB yang bersifat nefropathogenik akan merusak epitel tubuli sehingga ekskresi asam urat akan terganggu. Kondisi seperti ini akan menyebabkan asam urat terakumulasi di ginjal dan ureter, dan karena kristal asam urat mempunyai ujung yang tajam, maka dapat melukai epitel. Keadaan ini akan memperparah kerusakan ginjal, dan asam urat yang terakumuasi akan mengalami mineralisasi dalam waktu lama. Virus IB dapat menginfeksi saluran reproduksi (oviduct) adalah disebabkan oleh viremia virus IB yang ada di ginjal kemudian menuju oviduct dan akan terjadi peradangan pada membran mukosa oviduct dan kemudian menyebabkan salphingitis. Sedangkan pada saluran telur dapat menyebabkan atrofi ovarium.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan temuan-temuan patologi anatomi pada sampel ayam layer yang berupa kelainan di saluran urogenitalia beserta kelainan di saluran respirasi maka dapat diduga bahwa ayam tersebut terserang infectious bronchitis (IB). Selain itu, adanya enteritis katarrhalis di saluran pencernaan dapat disebabkan oleh infeksi oleh virus lain yang mengikuti infeksi oleh IB atau infeksi sekunder oleh bakteri patogen lain. Kemungkinan terjadinya infeksi bakteri sekunder diperkuat oleh sejarah ayam layer tersebut yang pernah diberikan pengobatan berupa dua macam antibiotik dalam jangka waktu pendek sehingga merusak flora normal usus. infeksi oleh bakteri atau virus lain dimungkinkan dapat terjadi karena dalam kondisi ini, ayam akan mengalami penurunan status imun sehingga mudah terinfeksi oleh mikroorganisme yang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Calcium and Phosphorus Imbalances. http://www. merckvetmanual.com/mvm/index.jsp@cfile=htm_2Fbc_2Ftoc_2F206913.htm [29 Maret 2010].

Anonim. 2008. Egg Drop Syndrome. http://www.merckvetmanual. com/mvm/index.jsp@cfile=htm_2Fbc_2Ftoc_205900.htm [29 Maret 2010].

Anonim. 2008. Infectious Bronchitis. http://www.merckvetmanual. com/mvm/index.jsp@cfile=htm_2Fbc_2Ftoc_206500.htm [29 Maret 2010].

Anonim. 2008. Infectious Bursal Disease. http://www.merckvetmanual. com/mvm/index.jsp@cfile=htm_2Fbc_2Ftoc_203100.htm [29 Maret 2010].

Anonim. 2008. Necrotic Enteritis. http://www.merckvetmanual. com/mvm/index.jsp@cfile=htm_2Fbc_2Ftoc_201200.htm [29 Maret 2010].

Runnells RA, Monlux WS, Monlux AW. 1965. Principles of Veterinary Pathology 7th Ed. The Iowa State University Press. USA.

Thomas NJ, Hunter DB, Atkinson CT. 2007. Infectious Diseases of Wild Birds. Blackwell Publishing. USA.

Tully Jr. TN, Dorrestein GM, Jones AK. 2000. Handbook of Avian Medicine 2nd Ed. Saunders Elsevier.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: