coretan seputar dunia veteriner

Endometritis pada Sapi

Endometritis merupakan peradangan pada lapisan mukosa uterus (Boden 2005). Menurut Ball dan Peters (2004), endometritis merupakan peradangan pada endometrium dan membran mukosa uterus yang sering disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Menurut Noakes et al. (2001), endometritis dan metritis merupakan salah satu penyebab kemajiran pada ternak.
Endometritis pada ternak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu endometritis klinis dan endometritis subklinis. Secara klinis, endometritis lebih prevalen pada sapi-sapi yang mature. Sapi dengan endometritis dapat didiagnosa berdasarkan palpasi perektal dengan hasil berupa tidak terabanya struktur ovarium. Sedangkan endometritis subklinis dapat didefinisikan sedagai inflamasi pada uterus yang biasanya ditentukan dengan pemeriksaan sitologi, tidak adanya eksudat purulenta di vagina. Endometritis subklinis biasanya terjadi ketika proses involusi sudah lengkap (sekitar 5 minggu pospartus). Endometritis subklinis dapat didiagnosa dengan pengukuran perbandingan neutrofil pada sample flushing lumen uterus pada volume rendah (20 ml) dengan menggunakan larutan saline steril (Divers dan Peek 2008). Menurut LeBlanc et al. (2002) diacu dalam Ball dan Peters (2004), identifikasi endometritis klinis dapat dilakukan dengan melihat adanya discharge purulent pada uterus atau diameter cervix sekitar 7,5 cm setelah 20 hari pospartus (selama laktasi), selain itu juga dapat terlihat adanya discharge mucopurulent setelah lebih dari 26 hari postpartus.
Beberapa penyakit yang berkaitan dengan kondisi endometritis pada sapi diantaranya adalah brucellosis, leptospirosis, campylobacteriosis, dan trichomoniasis. Selain itu, endometritis juga disebabkan oleh infeksi yang nonspesifik. Mikroorganisme penyebab endometritis pada sapi adalah Brucella sp., Leptospira sp., Campylobacter, Trichomonas, Arcanobacterium (Actinomyces) pyogenes, dan Fusobacterium necrophorum atau organisme gram negatif anaerob lainnya (Anonim 2008a). Menurut Noakes et al. (2001), derajat kontaminasi bakteri pada uterus sering terjadi selama partus dan setelah partus, serta dapat terjadi ketika coitus dan inseminasi. Infeksi yang persisten tergantung pada derajat kontaminasi bakteri, mekanisme pertahanan inang, dan keberadaan substrat untuk pertumbuhan bakteri.
Uterus normal merupakan lingkungan yang bersifat steril, sedangkan vagina merupakan lingkungan yang tidak steril karena mengandung banyak mikroorganisme. Patogen yang bersifat oportunistik dari flora normal vagina atau dari lingkungan luar dapat masuk ke dalam uterus. Uterus pada kondisi normal dapat melakukan pembersihan secara efisien terhadap mikroorganisme yang masuk dari vagina atau lingkungan luar. Namun, uterus pada saat postpartus biasanya terkontaminasi oleh beragam mikroorganisme dan ketika terjadi infeksi yang bersifat persisten, maka infeksi akan berkembang menjadi endometritis kronis atau subakut dan kondisi ini akan merusak fertilitas ternak (anonim 2008a). Sedangkan menurut Noakes et al. (2001), uterus pada kondisi normal mempunyai beberapa mekanisme pencegahan terhadap patogen oportunistik dari saluran reproduksi. Mekanisme pertama adalah barrier fisik yang berupa sphincter vulva dan cervix, sphincter vulva dapat melindungi saluran reproduksi dari kontaminasi feses yang dikeluarkan oleh saluran pencernaan. Mekanisme kedua adalah pertahanan secara lokal dan sistemik di uterus, kedua mekanisme pertahanan tersebut sangat dipengaruhi oleh hormon steroid reproduksi (estrogen dan progesteron). Hal ini berarti bahwa saluran reproduksi akan lebih resisten terhadap infeksi apabila kadar estrogen meningkat (dominan), sedangkan ketika kadar progesteron lebih dominan, maka saluran reproduksi lebih rentan terhadap infeksi.
Menurut Noakes et al. (2001), konsentrasi estrogen terjadi saat estrus dan partus, kondisi ini menyebabkan perubahan pada jumlah dan perbandingan sel-sel darah putih yang bersirkulasi (dengan neutrofilia relatif). Kondisi estrus menyebabkan suplai darah ke uterus mengalami peningkatan karena dipengaruhi oleh hormon estrogen yang meningkat, selain itu, pada saat partus juga terjadi peningkatan suplai darah ke uterus bunting. Peningkatan suplai darah tersebut diikuti oleh migrasi sel-sel darah putih dari sirkulasi darah ke lumen uterus, sehingga memungkinkan terjadi proses fagositosis yang aktif. Estrogen juga dapat menyebabkan peningkatan jumlah vaginal mucus yang berperan penting dalam mekanisme pertahanan uterus terhadap bakteri dengan cara menyediakan barrier fisik uterus dan mekanisme flushing dan pengenceran bakteri kontaminan. Sehingga pada kondisi tersebut, kontaminasi bakteri tidak mengganggu kesehatan uterus.
Infeksi uterus yang menyebabkan peradangan uterus dapat terjadi oleh adanya kerusakan barrier mekanis/barrier fisik yang melindungi uterus. Kelainan lain yang menyebabkan peradangan uterus adalah kerusakan vulva/gangguan kemampuan vulva untuk berfungsi normal. Selain itu, kelainan yang menyebabkan infeksi berat pada lumen uterus adalah kerusakan/kelainan pada cervix, khususnya kondisi yang bersamaan dengan kelainan/kerusakan pada vulva. Kelainan mekanisme pertahanan alami pada saat partus dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah distokia, retensio secundinae, penyakit-penyakit metabolis, dan fatty liver disease. Infeksi uterus pada kondisi ini disebabkan oleh dominasi progesteron sehingga uterus lebih rentan terhadap infeksi. Selain itu, pada kondisi fase luteal yang diperpanjang dapat menyebabkan kontaminan yang bersifat non-spesific menjadi bersifat patogen, serta pada kondisi corpus luteum persisten atau luteal cysts juga sering berkaitan dengan infeksi uterus. Uterus yang mengalami infeksi menyebabkan kerusakan epitel endometrium dan akan menyebabkan uterus tidak mampu mensekresikan hormon PGF2α, sehingga corpus luteum menjadi tertahan dan dapat memicu terjadinya infeksi uterus (Noakes et al. 2001).
Menurut Ball dan Peters (2004), endometritis sering disebabkan oleh kelanjutan distokia atau retensio secundinae dan sering berkaitan dengan penurunan laju involusi uterus pada periode pospartus. Kondisi endometritis sering diikuti oleh keadaan corpus luteum persisten sehingga kejadian infeksi dapat terjadi terus menerus karena kadar estrogen sangat rendah yang berfungsi dalam mekanisme pembersihan uterus.
Infeksi uterus oleh Arcanobacterium (Actinomyces) pyogenes atau infeksi bersama dengan Fusobacterium necrophorum atau bakteri gram negatif anaerob lainnya menghasilkan gejala klinis berupa eksudat purulenta dari uterus dan vagina yang terlihat seperti jonjot-jonjot putih. Eksudat tersebut dapat dibedakan dari eksudat estrus, yaitu eksudat estrus mempunyai penampakan berupa eksudat yang jernih. Gejala klinis lainnya adalah perubahan konsistensi uterus yang dapat terlihat dari palpasi rektal. Sensitivitas dan spesifitas diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan menggunakan speculum dan pemeriksaan (pengukuran) cytology endometrium. Gejala klinis yang terlihat pada sapi adalah kesakitan, penurunan nafsu makan, dan penurunan produksi susu. Namun, sapi perah di lapangan yang mengalami kondisi endometritis tidak menunjukkan gejala kelemahan, tidak terjadi penurunan nafsu makan, serta tidak menunjukkan peningkatan temperatur tubuh (Anonim 2008a).
Menurut anonim (2008a), treatmen endometritis pada sapi dapat dilakukan dengan infusi antimicrobial secara intrauterine. Selain dapat membersihkan bakteri dalam uterus, infusi antimikrobial intrauterine juga dapat memperbaiki fertilitas sapi. Infusi cephapirin intrauterine dapat meningkatkan fertilitas pada sapi perah pada saat endometritis. Namun, infusi antibiotik yang diberikan dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kerusakan jaringan uterus dan peningkatan residu di susu dan karkas. Apabila terjadi gejala kesakitan maka terapi yang diberikan dapat berupa pemberian antibiotik sistemik. Terapi lain yang dapat diberikan untuk mengatasi endometritis pada sapi adalah pemberian preparat PGF2α untuk menstimulasi kontraksi uterus dan pengeluaran eksudat.
Menurut Noakes et al. (2001), terapi yang dapat diberikan untuk mengatsi endometritis diantaranya adalah antibiotika spektrum luas dan sistemik, terapi cairan, dan pemberian NSAIDs. Antibiotik sistemik tersebut yang sering diberikan adalah oxytetracycline dengan dosis 22 mg/kg secara iv atau im. Selain itu juga dilakukan pemberian abtibiotik secara infusi yang berupa tetrasiklin dengan rute intrauterine untuk mengatasi endometritis ringan. Terapi lain yang diberikan adalah preparat PGF2α secara intrauterine yang bertujuan untuk melisiskan CL, dan pemberian preparat oxytocin dengan rute IM untuk mengeluarkan cairan dan debris peradangan di uterus. Pemberian oestradiol benzoate 3 – 5 mg secara IM bersamaan dengan pemberian antibiotika dapat meningkatkan aliran darah ke uterus sehingga meningkatkan penyerapan antibiotik. Namun, dosis tinggi tanpa pemberian antibiotik dapat meningkatkan aliran darah ke uterus dan meningkatkan penyerapan toksin dari bakteri, serta meningkatkan terjadinya folikulogenesis yang dapat menyebabkan cystic ovari.
Infusi intrauterine merupakan treatmen utama terhadap endometritis pada sapi. Mode of therapy dari infusi intrauterine mempunyai efek yang menguntungkan terhadap penampilan reproduksi sapi perah selanjutnya. Pemberian cephapirin, yang merupakan generasi pertama cephalosporin secara efektif dapat meningkatkan penampilan reproduksi pada sapi perah. Cephapirin mempunyai waktu yang singkat terhadap kebuntingan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: