coretan seputar dunia veteriner

Signalement

 

Nama Pasien                          : Diego

Jenis Hewan                           : Anjing

Ras/Breed                               : German Shepherd

Warna Rambut dan Kulit   : Coklat dan hitam

Jenis Kelamin                         : Jantan

Bobot Badan                           : 32,8 kg

Tanggal Datang                      : 3 Nopember 2010

 

Anamnesis : Luka terbuka di daerah sekitar anus selama ± 3

bulan yang lalu

 

Status Present

Perawatan                               : baik

Tingkah laku                            : jinak

Gizi                                             : baik

Pertumbuhan                          : baik

Sikap berdiri                            : tegak pada keempat kaki

Frekuensi napas                     : 28 kali/menit

 

Kulit dan Bulu

Aspek bulu                              : kusam

Kerontokan                              : ada

Kebotakan                               : tidak ada

Turgor kulit                              : sedang

Permukaan kulit                      : rata dan terdapat infestasi caplak

Bau kulit                                  : khas

 

Kepala dan Leher

Ekspresi wajah                       : apatis

Pertulangan kepala                 : tegas

Posisi tegak telinga                 : telinga tegak keduanya

 

Palpasi

Palpebrae                                : membuka dan menutup sempurna pada kedua

mata

Cilia                                         : keluar sempurna pada kedua mata

Conjunctiva                             : rose pada kedua mata

Membrana nictitans                : tersembunyi pada kedua mata

 

Sclera                                      : putih pada kedua bola mata

Cornea                                    : bening pada kedua bola mata

Limbus                                                : rata pada kedua bola mata

Pupil                                        : mengecil pada kedua bola mata

Refleks pupil                           : ada pada kedua bola mata

Vasa injectio                            : tidak ada pada kedua bola mata

Hidung dan sinus                    : tidak ada discharge

 

Mulut dan Rongga Mulut

Rusak/luka bibir                      : tidak ada

Mukosa                                    : rose

Gigi geligi                                 : lengkap

Lidah                                       : rose

 

Telinga

Posisi                                      : tegak pada kedua telinga

Bau                                          : khas cerumen

Permukaan daun telinga         : rata

Krepitasi                                  : ada

Reflek panggilan                     : ada

 

Sistem Pernapasan

Bentuk rongga thorax              : simetris

Tipe pernapasan                     : costal

Ritme                                      : teratur

Intensitas                                 : tidak ada perubahan

Frekuensi                                : 28 kali/menit

Trachea                                   : teraba dan tidak ada batuk

Penekanan rongga thoraks     : tidak sakit

 

Abdomen dan Organ Pencernaan

Inspeksi

Besar                                      : tidak ada perubahan

Bentuk                                     : simetris

Suara peristaltik lambung       : tidak terdengar

 

Anus

sekitar anus                            : kotor

Glandula perianalis                 : bengkak dan mengalami perlukaan (ulcer)

Kebersihan daerah perineal    : bersih

 

Alat Gerak

Perototan kaki depan              : tidak ada perubahan

Perototan kaki belakang          : tidak ada perubahan

Spasmus otot                         : tidak ada

Tremor                                                : tidak ada

Cara bergerak-berjalan           : koordinatif

 

Konsistensi pertulangan         : kompak

Reaksi saat palpasi                : tidak ada rasa sakit

 

Diagnosa : Fistula perianal

Prognosa                               : Dubius

Terapi : –     Chlorhexidine

–          Rivanol

–          Nebacetyn

–          Enbatic topical

 

PEMBAHASAN

Anjing ras German Shepherd yang bernama Diego berdasarkan data rekam medis di Direktorat Satwa Polri telah mengalami kondisi pembengkakan dan perlukaan di daerah perianal sejak tanggal 2 Agustus 2010. Kondisi tersebut menyebabkan tidak dapat dilakukan pemeriksaan temperatur rektal pada anjing Diego. Walaupun terjadi gangguan di daerah perianal, anjing Diego masih memperlihatkan aktivitas yang normal serta nafsu makan dan konsumsi air minum yang tidak mengalami perubahan.

Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya kelainan di daerah perianal. Daerah perianal mengalami kebengkakan dan juga tedapat perlukaan. Di lokasi tersebut sering terdapat discharge berupa darah atau discharge mukopurulenta. Selain itu, terlihat adanya rasa sakit di lokasi tersebut ketika dilakukan pemeriksaan fisik dengan palpasi pada daerah perianal tersebut yang ditandai dengan anjing memperlihatkan rasa ketidaknyamanan ketika dilakukan pemeriksaan fisik. Berdasakan hasil pemeriksaan fisik maka diagnosis dari kondisi Diego adalah fistula perianal. Menurut Kelly (1984), fistula perianal lebih sering terjadi pada anjing ras german shepherd. Menurut Tilley dan Smith (2000), breed predisposisi dari fistula perianalis adalah anjing ras german shepherd dan irish setter dengan umur antara 7 bulan sampai 12 tahun.

Gejala klinis yang ditemukan dari anjing Diego adalah diare yang ditandai oleh keadaan sekitar anus yang kotor, pembengkakan daerah perianal, abses di daerah perianal, anjing sering menjilat daerah perianal, adanya discharge mukopurulentayang keluar dari daerah perianal yang luka, nyeri/kesakitan di daerah perianal, serta anjing memperlihatkan sikap tidak mau untuk duduk. Menurut Patterson dan Campbell (2005), canine anal furunculosis (fistula perianal) merupakan penyakit kronis pada daerah perianal, anal, dan jaringan rektum yang ditandai dengan adanya ulcer. Penyebab dari kondisi ini masih belum diketahui dengan pasti. Namun, kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan sistem imun. Penegakkan diagnosa dari fistula perianal biasanya dari anjing ras german shepherd yang menunjukkan adanya lesio perianal.

Menurut House et al. (2006), fistula perianal pada anjing merupakan penyakit kronis dan progresif yang dicirikan oleh adanya fistula cutaneus dan fistula rectocutaneus, serta dicirikan oleh adanya ulcerasi di jaringan perianal. Gejala klinis dari fistula perianal diantaranya adalah tenesmus, dyschezia, konstipasi, dan discharge mukopurulenta dari perineum. Menurut Tilley dan Smith (2000), fistula perianal dicirikan oleh adanya jalur fistula kronis atau ulcer pada sinus yang melibatkan regio perianal, kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah peradangan kelenjar apokrin (hidradenitis suppurativa), impaksi dan infeksi sinus atau kripta anus, infeksi circumanal glands dan folikel rambut, serta anal sacculitis. Selain itu, kondisi ini juga sering berkaitan dengan keadaan kolitis pada anjing ras german shepherd. Kondisi ini menyebabkan keterlibatan sistem gastrointestinal ketika jaringan luka yang berlebihan di sekitar anus menghasilkan tenesmus, dyschezia, atau masalah-masalah lain yang berkaitan dengan defekasi. Gejala klinis dari fistula perianal diantaranya adalah dyschezia, tenesmus, hematochezia, konstipasi, diare, discharge mukopurulenta yang berbau, rasa sakit ketika menggerakkan ekor, menjilat bagian anus, kesulitan untuk duduk, fecal incontinenece, anorexia, penurunan bobot badan, serta adanya saluran fistula perianal. Selain itu, menurut Rubin dan Carr (2007), fistula perianal menyebabkan ulserasi di daerah peranal, anal, dan jaringan perirektal. Kondisi ini umumnya menunjukkan gejala kelainan pada usus besar, diantaranya adalah tenesmus, dyschezia, dan peningkatan frekuensi defekasi. Daerah yang mengalami gangguan (fistula perianal) akan terasa sakit dan dihasilkan discharge purulenta atau hemorrhagica.

Etiopatogenesis dari fistula perianal masih belum diketahui dengan jelas. Salah satu hipotesis menyebutkan bahwa posisi ekor yang turun akan menyebabkan peningkatan kelembaban, akumulasi bakteri dari feses, rectal mucus, atau akumulasi anal sac mucus di regio perianal sehingga dapat mengakibatkan terjadinya peradangan dan infeksi pada kulit sekitar anus dan adnexa. Anatomi makroskopis dan mikroskopis zona anocutaneus dari anjing German Shepherd pada umumnya sama dengan anjing-anjing ras yang lain, tetapi anjing ras German Shepherd mempunyai kelenjar apokrin perianal dengan kepadatan yang tinggi. Namun, kondisi tersebut masih belum jelas hubungan antara kelenjar keringat dengan perkembangan fistula perianal. Kemungkinan lain adalah keadaan hipotiroidisme atau sindrom imunodefisiensi dapat menyebabkan fistula perianal, tetapi dalam studi lain mengatakan bahwa tidak terdapat perbedaan pada hasil tes stimulasi tiroid dan konsentrasi serum IgA antara anjing yang normal dengan anjing yang sakit. Etiologi yang lain dari fistula perianal adalah impaksi dan infeksi pada sinus anal atau kripta anal, peradangan dan nekrosis pada kelenjar apokrin (hidradenitis suppurativa), infeksi kelenjar circumanal atau folikel rambut (folikulitis), infeksi anal sac dan abses anal sac, serta hipotiroidisme (Ellison 2008).

Menurut Patterson dan Campbell (2005), penyebab umum dari fistula perianal adalah konformasi regio perianal dan ekor yang buruk (posisi ekor yang turun), anal crypt fecalith impaction yang menghasilkan kondisi abses, penyebaran infeksi dari kelenjar anal (anal sac), trauma, dan reaksi terhadap benda asing. Teori saat ini mengatakan bahwa proses penyakit ini disebabkan oleh multifactorial immune mediated disease. Kondisi ini dapat menyebabkan fistula perianal (canine anal furunculosis) dan Crohn’s disease dari terjadinya terhadap penurunan regulasi respon imun. Crohn’s disease dapat menghasilkan ketidakseimbangan respon imun inang terhadap trigger di usus. Karena anjing german shepherd dengan keadaan fistula perianal sering diikuti oleh kondisi klinis maupun histologi kolitis (inflammatory bowel disease) dan enteral trigger (dietary antigen, antigen bakterial, dan superantigen) yang dapat menyebabkan furunkulosis. Anjing german shepherd dengan kondisi fistula perianal dilaporkan sering diikuti oleh keadaan inflammatory bowel disease. Hal ini dimungkinkan oleh susunan genetik dari anjing german shepherd dapat memproduksi respon imun proinflammatory yang tinggi, sehingga menyebabkan immune-mediated disease. Faktor lain penyebab dari fistula perianal adalah folikulitis stafilokokal. Berdasarkan evaluasi histologi, lesio fistula perianal awal menunjukkan reaksi peradangan pada epidermis tanpa ulcer epidermis yang terjadi bersamaan. Apabila reaksi peradangan mengalami peningkatan, folikulitis/furunkulosis dan saluran sinus yang tidak bercabang berkembang menuju dermis perianal. Ulcer epidermal superficial dan percabangan saluran sinus menyebabkan selulitis menuju ke seluruh jaringan perianal. Saluran sinus kemudian dilapisi oleh epitel squamous dan terjadi nfiltrasi oleh campuran dari limfosit, sel plasma, makrofag, neutrofil, dan eosinofil. Apabila lesio perianal berkembang maka nodule limfoid perifer akan berkembang.

Diferensial diagnosa dari fistula perianal (canine anal furunculosis) adalah abses anal sac, adenoma perianal, anal sac adenocarcinoma, squamous cell carcinoma, rectal neoplasia, atypical bacterial infection, mikosis, dan oomycosis (Patterson dan Campbell 2005). Abses anal sac dicirikan oleh kondisi demam dan gejala infeksi pada anal sac. Gejala lain yang dapat dilihat adalah pembengkakan yang biasanya terjadi pada salah satu sisi, pembengkakan tersebut pada awalnya berwarna merah kemudian berkembang menjadi keunguan (Eldredge et al. 2007).

Terapi terhadap pasien fistula perianal yang dilakukan di Direktorat Satwa Polri adalah dengan menggunakan chlorhexidine, rivanol, Nebacetyn®, dan Enbatic® topical. Chlorhexidine dan rivanol digunakan sebagai antiseptik untuk membersihkan luka/ulcer, sedangkan Nebacetyn® dan Enbatic® digunakan sebagai antibiotik topikal pada daerah ulcer tersebut. Menurut Ellison (2008), higiene lokal terhadap fistula perianal (canine anal furunculosis) meliputi pembersihan/pencukuran bulu di sekitar perianal dan pembersihan daerah perianal dengan menggunakan larutan povidon iodine 1% atau larutan chlorhexidine gluconate 0,5%, pembersihan dengan povidone iodine dan chlorhexidine gluconate tersebut berfungsi untuk menurunkan peradangan suppurativa yang terjadi tetapi tidak menyebabkan kesembuhan fistula perianal. Selain itu, pengikatan ekor ke samping atau ke atas tubuh dapat memberikan aerasi yang baik di regio perianal, sehingga dapat menyebabkan kesembuhan ulcer di superficial. Pemberian antibiotik topikal atau antibiotik sistemik dapat membantu mengurangi infeksi sekunder oleh bakteri, tetapi penggunaan jangka panjang antibiotik ini belum tepat karena bakteri bukan merupakan penyebab utama dari fistula perianal.

Terapi untuk mengatasi fistula perianal dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan dan terapi bedah. Terapi medis terhadap fistula perianal harus diusahakan dengan menggunakan terapi bedah. Beberapa terapi dengan obat-obatan yang digunakan adalah prednison dengan pakan yang bersifat hipoalergenik seperti diet ikan dan kentang, cyclosporin, topical tacrolimus, serta azathioprine dan metronidazole. Prednison biasanya diberikan pada fistula perianalis yang berkaitan dengan inflammatory bowel disease, prednison tersebut diberikan dengan dosis tinggi (2 mg/kg BB s1dd selama 2 minggu dan diikuti tambahan prednison dengan dosis 1 mg/kg BB s1dd sampai 4 minggu). Cyclosporin merupakan agen imunosupresif kuat yang menyebabkan efek samping minimal, cyclosporin dapat menyebabkan supresi fungsi sel T helper ketika diberikan dengan dosis 2 – 3 mg/kg BB s2dd selama 12 minggu. Terapi lain adalah tacrolimus yang merupakan obat dengan sifat imunosupresif dengan aktivitas yang sama dengan cyclosporin. Kombinasi azathioprine dan metronidazole merupakan obat yang bersifat imunosupresif dan merupakan antibiotik yang bersifat anti anaerob. Azathioprine diberikan dengan dosis 50 mg s1dd dan metronidazole diberikan dengan dosis 400 mg s1dd sampai 6 minggu. Sedangkan terapi bedah yang dapat dilakukan adalah anal sacculectomy, cryosurgery, caudectomy, dan laser excision (Ellison 2008). Prednison merupakan glukokortikoid sintetik. Dosis penggunaan prednison untuk imunosupresan adalah 2,2 mg/kg BB s2dd sampai kondisi membaik (Plumb 1999). Cyclosporine merupakan obat yang bersifat immunosuppresif dengan menekan induksi sel T limfosit. Dosis cyclosporin pada anjinga adalah sebesar 3 – 7 mg/kg BB peroral s2dd (Tilley dan Smith 2000).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dapat disimpulkan bahwa pasien anjing german shepherd yang bernama Diego di Direktorat Satwa Polri mengalami fistula perianal (canine anal furunculosis). Saran yang dapat diberikan dalam penanganan fistula perianal yaitu dilakukan peneguhan diagnosa dengan biopsi, serta penanganan fistula perianal diperluas dengan terapi diet dan terapi bedah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Eldredge DM, Carlson LD, Carlson DG, Giffin JM. 2007. Dog Owner’s Home Veterinary Handbook 4 th Ed. Wiley Publishing, Inc. New Jersey.

Ellison GW. 2008. Perianal Fistulas/Anal Furunculosis; A Medical Disease That Sometimes Need Surgery. http://surgery.acvsc.org.au/ surgery_assets/science%20week%202008/perianal%20fistulas%20or%20furunculosis.pdf [20 Nopember 2010].

House AK, Guitian J, Gregory SP, Hardie RJ. 2006. Evaluation of the effect two dose rates of cyclosporine on the severity of perianal fistulae lesions and associated clinical signs in dogs. Veterinary Surgery. 35: 543-549.

Kelly WR. 1984. Veterinary Clinical Diagnosis 3rd Ed. Bailliere Tindall. London.

Patterson AP, Campbell KL. 2005. Managing Anal Furunculosis in Dogs. http://www.hungarovet.com/wp-content/uploads/2009/04/canine-anal-furunculosis-perianal-fistula-compendium.pdf [20 Nopember 2010].

Plumb DC. 1999. Veterinary Drug Handbook 3rd Ed. Phamma Vet Publishing. Minnesota.

Rubin SI, Carr AP. 2007. Canine Internal Medicine Secrets. Mosby Elsevier. USA.

Tilley LP, Smith FWK. 2000. The 5 Minute Veterinary Consult Ver. 2. Lippincott Williams & Wilkins. USA.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: