coretan seputar dunia veteriner

Ketosis pada Sapi

Definisi

Ketosis adalah penyakit yang umum terjadi pada ternak dewasa. Ketosis dapat terjadi pada sapi perah ketika masa awal laktasi dan dicirikan oleh anoreksia dan depresi. Ketosis jarang terjadi pada masa kebuntingan akhir dan kasusnya menyerupai pregnancy toksemia pada domba. Ketosis tersebar di seluruh dunia, tetapi sering terjadi pada sapi perah dengan produksi susu tinggi. Semua sapi perah pada masa awal laktasi (6 minggu pertama) mempunyai resiko yang tinggi terhadap ketosis. Insidensi ketosis pada saat laktasi berkisar antara 5 – 16 %. Sapi dengan jaringan adiposa yang berlebihan (body condition score ≥ 3,75) pada saat beranak mempunyai resiko ketosis yang tinggi. Sapi laktasi dengan hiperketonemia (ketosis subklinis) akan meningkatkan resiko terjadinya ketosis klinis. Badan-badan keton meliputi aseton, asetoasetat, dan beta-hidroksibutirat.

Diagnosis klinis dari ketosis didasarkan pada keberadaan faktor resiko yaitu masa laktasi awal, gejala klinis yang muncul, dan badan keton di urine dan susu. Ketika diagnosis ketosis ditentukan maka seluruh pemeriksaan fisik harus ditentukan karena ketosis sering terjadi bersamaan dengan penyakit-penyakit peripartum, khususnya displasia abomasum, tertahannya membran fetus, dan metritis. Selain itu, rabies dan penyakit saraf lain merupakan diagnosa pembanding yang penting untuk diperhatikan.

 

Gejala klinis

Gejala klinis yang sering terjai pada ketosis adalah disfungsi saraf, pica, menjilat secara abnormal, langkah kaki yang abnormal dan inkoordinasi, melenguh, serta bersifat agresif. Ternak (sapi perah) yang partus dan asupan pakan yang rendah merupakan tanda awal terjadinya ketosis. Sapi yang menderita ketosis sering menolak pakan biji-bijian sebelum pemberian hijauan. Pada kelompok ternak akan telihat adanya penurunan produksi susu, lethargy, dan kosongnya abdomen. Ketika dilakukan pemeriksaan fisik akan didapatkan bahwa tidak terjadi demam dan sedikit dehidrasi. Sedangkan kelainan pada motilitas rumen sangat bervariasi antar sapi, serta sapi akan terlihat hiperaktif atau hipoaktif. Sedangkan pada banyak kasus ketosis tidak terlihat adanya kelainan secara fisik. Gangguan CNS merupakan kasus yang minoritas.

Patogenesa

Patogenesa dari ketosis belum diketahui secara pasti, tetapi ketosis terjadi dari kombinasi anatara mobilisasi adiposa yang hebat dan kebutuhan glukosa yang tinggi pada tubuh. Kedua kondisi tersebut dapat terjadi pada masa laktasi awal. Mobilisasi adiposa seiring dengan konsentrasi nonesterified fatty acids (NEFA) di serum darah. Selama periode glukoneogenesis, sebagian besar serum NEFA akan disintesis menjadi badan keton di hati. Secara patologi klinik dapat dicirikan oleh konsentrasi serum NEFA yang tinggi dan badab keton, serta konsentrasi glukosa yang rendah.

Selain itu terdapat kemungkinan bahwa patogenesis dari ketosis terjadi segera setelah postpartus. kasus ketosis pada masa awal laktasi biasanya berkaitan dengan fatty liver. Fatty liver dan ketosis kemungkinan bagian dari kondisi yang berkaitan dengan mobilisasi lemak yang hebat pada ternak. Kasus ketosis juga terjadi pada masa puncak produksi susu, yang biasanya terjadi sekitar 4 – 6 minggu postpartus, dan hal ini kemungkinan terkait dengan pakan yang rendah sehingga menyebabkan terjadinya glukoneogenesis yang menghasilkan mobilisasi lemak yang hebat.

Pengobatan

Pengobatan pada kasus ketosis bertujuan untuk meningkatkan normoglisemia dan menurunkan konsentrasi badan-badan keton serum. Pengobatan terhadap ketosis dapat diberikan bolus dextrose 50 % intravena sebanyak 500 ml yang merupakan terapi umum. Larutan tersebut bersifat hiperosmotik dan apabila diberikan secara perivaskular akan menyebabkan pembengkakan jaringan dan iritasi jaringan. Terapi bolus glukosa dapat secara umum menghasilkan recoveri yang cepat, khususnya kasus yang terjadi mendekati puncak laktasi. Pemberian preparat glukokortikoid, seperti dexamethason atau isoflupredone acetate sebanyak 5 – 2 mg/dosis secara IM dapat menghasilkan respon yang baik. Terapi glukokortikoid dan glukosa dapat diberikan berulang jika diperlukan. Propylene glycol (250 – 400 g/dosis, secara PO) dapat berperan sebagai prekursor glukosa dan mungkin efektif untuk terapi ketosis, khususnya pada kasus ringan atau diberikan secara kombinasi dengan terapi yang lain. Propylene glycol dapat diberikan dua kali sehari, serta dosis yang berlebihan dapat menyebabkan penekanan pada CNS.

Kasus ketosis yang terjadi pada 1 – 2 minggu pertama beranak susah untuk dilakukan terapi daripada kasus ketosis yang terjadi mendekati puncak laktasi. preparat insulin yang bersifat long-acting secara IM dengan dosis 150 – 200 IU/hari dapat digunakan untuk mengatasi kondisi ini. Insulin akan menekan mobilisasi adiposa dan ketogenesis, tetapi terapi ini harus diberikan secara kombinasi dengan glukosa atau glukokortikoid untuk mencegah hipoglisemia.

Pencegahan dan kontrol

Pencegahan ketosis dapat dilakukan dengan manajemen nutrisi. Selain itu kondisi tubuh juga harus diperhatikan pada laktasi akhir, serta ketika sapi menjadi terlalu gemuk. Karena periode kering kandang merupakan cara yang terlambat untuk menurunkan body condition score maka penurunanan body condition score mungkin kurang berhasil sehingga dapat menghasilkan mobilisasi adiposa yang berlebihan.

Sapi cenderung mengurangi konsumsi pakan pada 3 minggu akhir kebuntingan, sehingga manajemen nutrisi harus bertujuan untuk mengurangi penurunan asupan pakan pada sapi. Asupan pakan harus selalu diperhatikan dan rasio pakan harus disesuaikan untuk memaksimalkan bahan kering dan konsumsi energi pada akhir kebuntingan. setelah partus, maka nutrisi harus ditingkatkan konsumsi pakan dan energi. Rasio pakan yang diberikan adalah peningkatan konsentrasi karbohidrat nonserat, tetapi mengandung serat untuk menjaga kesehatan rumen dan asupan pakan. Beberapa zat aditif seperti niasin, kalsium propionat, sodium propionat, propilen glikol, dan choline pelindung rumen merupakan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk manajemen ketosis. Bahan-bahan tersebut dapat diberikan pada 2 – 3 minggu akhir kebuntingan, yang merupakan periode rentan terhadap kejadian ketosis.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Ketosis in Cattle. http:// www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp@cfile=htm_2Fbc_2F80900. htm [5 Desember 2009].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: